Menurutnya, menjaga hutan tidak dapat dilakukan pemerintah seorang diri. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, penyuluh, KPH, lembaga masyarakat, dan para mitra pembangunan menjadi kunci menjaga keberlanjutan hutan. “Para penerima penghargaan Wana Lestari hari ini merupakan contoh bahwa masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam menjaga dan mengelola sumber daya hutan secara lestari,” katanya.

‎Ia berharap penghargaan tersebut menjadi energi baru bagi penerima untuk terus berkarya dan menjadi agen perubahan di tingkat tapak. ‎“Jadilah teladan bahwa menjaga hutan bukanlah beban, melainkan investasi untuk masa depan generasi kita,” ujarnya.

‎Susanto juga menyebut capaian membanggakan Sulteng dalam ajang Wana Lestari tingkat nasional. Dari lima kategori yang diikuti, dua peserta Sulteng berhasil meraih predikat terbaik nasional.

‎Keduanya yakni Sepriani Jome, S.Hut., Penyuluh Kehutanan PNS UPT KPH Toili Baturube, sebagai terbaik nasional kategori Penyuluh Kehutanan PNS, serta Lembaga Persetujuan Pengelola Hutan Desa Mesale, Desa Malitu, Kabupaten Poso, wilayah binaan UPT KPH Sintuwu Maroso.

‎Ia berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi seluruh insan kehutanan dan masyarakat untuk memperkuat perhutanan sosial, rehabilitasi hutan dan lahan, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, konservasi keanekaragaman hayati, serta perlindungan hutan.

‎Upaya itu, kata dia, juga sejalan dengan Program 9 BERANI, khususnya BERANI Makmur, BERANI Harmoni, dan BERANI Sejahtera melalui penguatan ekonomi kerakyatan serta pemberdayaan masyarakat berbasis sumber daya alam lokal.

‎“Hutan lestari, masyarakat sejahtera, dan pembangunan berkelanjutan harus menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. RHT