Gubernur mengingatkan, gelar akademik yang diterima para wisudawan bukanlah akhir perjalanan. Setelah menyandang gelar, masyarakat akan menantikan kontribusi nyata dari para lulusan. Ia meminta para alumni menggunakan ilmu yang diperoleh untuk kepentingan masyarakat, menjaga nama baik almamater dan keluarga, serta menjunjung tinggi integritas. “Pendidikan tinggi bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membuat seseorang berguna bagi sesama,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT., mengingatkan jika wisuda bukan sekadar penanda berakhirnya perjalanan akademik, tetapi juga menjadi momentum bagi lulusan untuk merefleksikan nilai-nilai yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di Untad. “Jangan pulang hanya membawa ijazah. Pulanglah membawa kemampuan, pengalaman, dan karakter yang suatu hari nanti benar-benar bisa mengubah diri,” kata Prof Amar.
Ia menegaskan, perjuangan mahasiswa selama menempuh pendidikan serta pengorbanan orang tua terlalu besar jika hanya berakhir pada selembar ijazah.
Karena itu, gelar akademik harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan masyarakat. “Jangan biarkan gelar hanya menjadi identitas akademik. Jadikan gelar sebagai pengingat bahwa Saudara memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk menggunakan ilmu bagi kebaikan,” ujarnya.
Prof Amar juga mengajak para lulusan memanfaatkan pengetahuan dan teknologi untuk menghadirkan solusi serta memperluas manfaat bagi masyarakat. Kemajuan, menurutnya, harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia menekankan bahwa kecerdasan, kompetensi dan gelar akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang. Kejujuran, tanggung jawab, ketekunan, keberanian dan integritas merupakan nilai yang menentukan kepercayaan masyarakat.
“Yang membuat seseorang dipercaya adalah kejujuran, tanggung jawab, ketekunan, keberanian, dan integritas,” katanya.
Menurut Prof Amar, perjalanan akademik di Untad merupakan proses pembentukan insan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki integritas dan kesiapan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bangsa dan kemanusiaan. Dalam kesempatan tersebut, Prof Amar juga menitipkan nilai-nilai luhur Ketadulakuan sebagai bekal bagi para alumni dalam melanjutkan perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan.
Nilai Nakaba dimaknai sebagai ketangguhan dan keteguhan dalam menghadapi perubahan serta berbagai tantangan. Sementara Natona Langgai menumbuhkan keberanian untuk mengambil peran, menghadirkan gagasan, serta menjadi pemecah masalah dan inovator di tengah masyarakat.
Adapun Nabaraka menjadi landasan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Cerdas dalam berpikir, teguh dalam prinsip, bijaksana dalam bertindak, dan nyata dalam memberikan dampak,” ujar Prof Amar menggambarkan jati diri alumni yang diharapkan terus hidup setelah meninggalkan kampus. ENG