Menurutnya, ia tidak mempersoalkan kewajiban membayar kelebihan bagasi. Namun, ia menilai kondisi tersebut seharusnya masih bisa diatasi apabila antrean berjalan normal.
“Saya tidak keberatan membayar jika memang bagasi berlebih. Yang saya sesalkan, karena antrean dilompati, kami tidak lagi memiliki waktu untuk memindahkan sebagian barang ke tas kabin yang masih kosong. Demi mengejar waktu boarding, kami terpaksa langsung membayar Rp273.000 agar tidak ketinggalan pesawat,” ujarnya.
Andi mempertanyakan kebijakan petugas yang memprioritaskan penumpang tujuan lain dengan cara melompati antrean. Ia mengaku sempat mendapat penjelasan dari petugas bahwa hal tersebut merupakan kebijakan perusahaan. “Kalau memang itu policy perusahaan, apakah melompati antrean penumpang yang sudah menunggu lebih dulu juga termasuk kebijakan? Kami hanya ingin diperlakukan adil dan diberikan kesempatan yang sama,” tegasnya.
Ia berharap manajemen Batik Air melakukan evaluasi terhadap sistem pelayanan check-in, khususnya pada jam-jam sibuk, agar seluruh penumpang memperoleh pelayanan yang tertib, adil, dan tidak merasa dirugikan.
Sementara itu, Redaksi telah berupaya mengkonfirmasi pihak Batik Air melalui akun WhatsApp dan Instagram resmi perusahaan pada Kamis (30/7/2026). Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari pihak Batik Air.*/HJ