Environmental Sustainability Director, Dermawati S., mengakui, beberapa tahun terakhir menjadi momen tak mudah bagi dunia industri dan Indonesia di tengah isu lingkungan hidup dan pemanasan global. Namun peringatan HLHS ini dimanfaatkan IMIP untuk melakukan riset berkelanjutan dengan melibatkan semua unsur, termasuk mahasiswa dari seluruh Indonesia. “Materi LKTI tahun ini yang dihadirkan para peserta cukup kekinian dan ini dapat menjawab isu-isu yang ada secara global,” ungkap Darmawati.

Untuk diketahui, pemenang pertama LKTI IMIP 2026 diraih Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang menggagas tanaman alga sebagai metode dalam mereduce dampak pemanasan dari konstruksi dan infrastruktur di seluruh kawasan industri. Alles, salah satu peserta dari kampus UTY menjelaskan, banyak aktivitas industri saat ini menghasilkan gas karbon dioksida (CO2). Kondisi ini mendorong mereka menciptakan inovasi merubah CO² menjadi lebih sehat dan tidak lagi menjadi permasalahan.

“Dalam konteks industri global, banyak sekali permasalahan tentang isu kesehatan, suhu, emisi dan lainnya. Sehingga sangat penting untuk diteliti dan diberikan solusi. Kami memilih mengembangkan ide dari alga yang memiliki manfaat banyak, walaupun terlihat remeh. Banyak sekali riset-riset yang membuktikan bahwa alga berpeluang besar dalam menanggulangi dampak lingkungan akibat aktivitas industri,” timpal Novi, anggota Tim dari UTY.

Mereka meyakini IMIP berpotensi menjadi katalisator dalam penerapan Algaterra Biomodul menjadi Green Living Industri. Sehingga kedepannya IMIP sebagai kawasan industri terintegrasi bisa menjadi lebih sejuk, produktif dan memberikan dampak ekonomi serta sustainability dan menginspirasi kawasan-kawasan industri lainnya di Indonesia.

Selain menjadi ajang apresiasi, malam puncak peringatan HLHS 2026 PT IMIP sekaligus sebagai media menegaskan komitmen serta memperkuat kesadaran kolektif dalam merumuskan inovasi berkelanjutan sebagai upaya mitigasi terhadap dampak lingkungan. *WAN