Meski air mulai surut pada Minggu siang, warga masih disibukkan dengan aktivitas membersihkan rumah, halaman, dan fasilitas umum dari sisa lumpur yang ditinggalkan banjir. BPBD bersama instansi terkait telah menyalurkan bantuan darurat berupa perlengkapan tidur, kebutuhan dasar pengungsi, hingga perlengkapan bayi.
“Hingga kini kami terus melakukan pendataan lapangan atas dampak banjir. Syukurnya air sudah berangsur surut, namun kami tetap siaga mengantisipasi kemungkinan cuaca ekstrem berikutnya,” kata Rivai.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya warga yang bermukim di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor. Banjir yang terjadi di tengah masa tanggap darurat gempa kembali memperlihatkan betapa kompleksnya tantangan yang sedang dihadapi Parigi Moutong. Daerah ini tidak hanya berjuang memulihkan dampak gempa, tetapi juga harus menghadapi ancaman hidrometeorologi yang datang hampir bersamaan.
Namun di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan publik mengenai prioritas dan sensitivitas kepemimpinan daerah. Saat warga mengungsi dan petugas masih berjibaku melakukan penanganan di lapangan, Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong bersama sejumlah pejabat daerah diketahui menghadiri Pekan Nasional (Penas) XVII Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Provinsi Gorontalo.
Kondisi itu memunculkan kritik dari berbagai kalangan karena terjadi ketika Kabupaten Parigi Moutong masih berstatus tanggap darurat bencana. Di saat pemerintah daerah dituntut hadir memberikan rasa aman dan memastikan respons cepat terhadap berbagai ancaman yang muncul, pucuk pimpinan daerah justru berada di luar wilayah. AJI