Menurut Zullikar, keberhasilan sebuah program pangan tidak hanya diukur dari banyaknya hasil produksi yang diperoleh. Lebih dari itu, terdapat nilai kebersamaan dan gotong royong yang tumbuh melalui keterlibatan berbagai pihak. “Dari kegiatan seperti ini bukan hanya berbicara hasil panen, tetapi juga terbangun gotong royong dan kekeluargaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan hidup bangsa. Oleh karena itu, memperkuat sektor pertanian menuju swasembada membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah, aparat penegak hukum, petani, dan seluruh elemen masyarakat. “Kami berkomitmen agar program ini tetap berlanjut. Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu perluasan lahan sehingga manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Parigi Moutong, Sofiana, menjelaskan bahwa lahan seluas lima hektare yang digunakan dalam program Jaksa Mandiri Pangan ditanami bibit jagung varietas NK 212 Sakti.
Dari hasil ubinan yang dilakukan, produktivitas jagung diproyeksikan mencapai 10 hingga 12 ton jagung pipilan kering per hektare. Capaian tersebut dinilai cukup baik dan menunjukkan potensi besar sektor pertanian di Kabupaten Parigi Moutong dalam mendukung kebutuhan pangan nasional. “Saat ini harga komoditas jagung mencapai Rp5 ribu hingga Rp6 ribu per kilogram untuk jagung pipilan kering. Dengan harga seperti itu, tentu petani sangat diuntungkan,” jelas Sofiana. AJI