Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, mengakui kehadirannya dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi. “Kami datang untuk melihat langsung capaian daerah lain dan menjadi bahan evaluasi bagi kami di Parigi Moutong,” ujarnya.

Menurut Erwin, pemerintah daerah akan terus melakukan pembenahan, terutama dalam program-program yang berkaitan dengan penurunan angka pengangguran. “Kami akan terus dorong inovasi dan perbaikan program agar ke depan bisa ikut bersaing,” katanya.

Namun publik tentu menanti lebih dari sekadar komitmen. Penghargaan memang bukan tujuan utama pembangunan, tetapi penghargaan sering kali menjadi indikator bahwa program pemerintah berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Yang menarik, Parigi Moutong sebenarnya pernah mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Pada masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Samsurizal Tombolotutu–Badrun Nggai, daerah ini berhasil meraih SAKIP Award 2018 dari Kementerian PAN-RB RI.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati saat itu, H. Badrun Nggai, sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dalam menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Catatan sejarah itu menunjukkan bahwa prestasi bukanlah sesuatu yang asing bagi Parigi Moutong. Karena itu, kegagalan masuk dalam daftar Pemda Berprestasi 2026 seharusnya menjadi alarm sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi menyeluruh terhadap efektivitas program pembangunan yang sedang dijalankan.

Sebab di tengah keberhasilan daerah-daerah lain menunjukkan capaian yang terukur, Parigi Moutong tidak cukup hanya hadir sebagai tamu undangan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah lahirnya program-program yang mampu menghasilkan prestasi, meningkatkan kesejahteraan, dan mengembalikan daya saing daerah di tingkat regional maupun nasional. AJI