Masyarakat mungkin sudah akrab dengan 1000 HPK, namun program ini memperluas cakupan menjadi 8000 HPK, yang mencakup: 270 hari kehamilan, 730 hari pertama setelah lahir (usia 0–23 bulan), dan sekitar 7.000 hari sebelumnya, yakni sejak masa remaja “Implementasinya di Desa Bomba kami lakukan lewat edukasi gizi seimbang, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), konseling kesehatan reproduksi, hingga pendampingan calon pengantin agar sehat sebelum hamil,” jelas Olkamien

Sebelum program berjalan, Tim menemukan sejumlah persoalan kesehatan remaja di Desa Bomba, diantaranya tingginya angka anemia pada remaja putri akibat pola makan yang tidak sesuai gizi seimbang, kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan risiko pernikahan dini, masih adanya budaya yang membatasi asupan protein hewani pada remaja putri

“Kami tidak hanya mengkritisi, tapi memberikan solusi. Makanya hari ini kami gelar Edukasi Isi Piringku yang mengedepankan jenis makanan yang ada di wilayah Desa Bomba dan sekitarnya yaitu  telur  ayam dan makanan yang mudah didapat warga setempat,” ujar salah satu anggota tim, Mardiani.

Program ini direncanakan berkelanjutan. Olkamien menargetkan prevalensi stunting di Desa Bomba turun minimal 5 persen pada 2027. Lebih dari itu, mereka ingin menciptakan ekosistem desa yang sadar 8000 HPK. “Target kami tidak muluk-muluk, tapi realistis: tidak ada lagi pernikahan  Anaki, 100 persen remaja putri bebas anemia, dan setiap keluarga mengutamakan gizi dalam belanja harian. Kami ingin Desa Bomba menjadi percontohan desa bebas stunting,” tutup Olkamien. AMR