SULTENG RAYA – Tim Pengabdian Masyarakat (PPDM) Poltekkes Kemenkes Palu menggulirkan program 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Desa Bomba, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, belum lama ini. Hal ini sebagai upaya dalam pencegahan stunting di wilayah itu.
Kegiatan yang menyasar langsung puluhan remaja ini dipimpin Olkamien Jesdika Longgulo, SKEP.NS., MSC selaku Ketua Tim, didampingi anggota Tim yakni PROF. DR. Anna Veronica Pont, SKM, SH, MH, MM, Mardiani Mangun, SSIT., MPH, dan Zakiah Radjuleni. Mereka datang tidak hanya membawa materi ceramah, tetapi juga skrining kesehatan
Olkamien menjelaskan, Desa Bomba dipilih sebagai lokasi pengabdian karena prevalensi stunting di wilayah tersebut masih di atas rata-rata nasional. Selain akses layanan gizi yang terbatas, angka pernikahan dini di desa ini juga tergolong tinggi. “Kami memetakan wilayah berdasarkan data Puskesmas. Desa Bomba memiliki tantangan besar, namun pemerintah desanya sangat responsif. Ini peluang baik untuk intervensi,” kata Olkamien.
Berbeda dari program stunting pada umumnya yang menyasar balita, tim Poltekkes justru fokus pada remaja. Menurut Olkamien, 80% risiko stunting ditentukan sejak masa remaja, terutama pada remaja putri yang kelak akan menjadi ibu. “Jika seorang remaja putri mengalami anemia atau kekurangan gizi, cadangan gizinya saat hamil tidak optimal. Bayi yang dilahirkan berisiko stunting. Maka pencegahan harus dimulai dari hulu, yaitu dari remaja itu sendiri,” tegasnya.