Overthinking juga membuat seseorang sulit menikmati hidup. Hal-hal sederhana seperti belajar bersama, ikut organisasi, atau sekadar berkumpul dengan teman menjadi kurang menyenangkan karena pikiran yang terus dipenuhi kekhawatiran. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak ke masa depan, seperti sulit mengambil keputusan dan kurang percaya diri dalam menghadapi tantangan.
Tidak hanya berdampak pada individu, overthinking juga memengaruhi suasana belajar. Di kelas atau ruang diskusi, banyak yang akhirnya memilih diam karena takut salah. Padahal, belajar itu bukan hanya soal materi, tapi juga tentang berani bertanya, mencoba, dan menyampaikan pendapat. Kalau semua takut salah, suasana belajar jadi tidak berkembang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memperkuat kebiasaan ini. Informasi yang datang terus-menerus membuat pikiran sulit beristirahat. Kita jadi memikirkan banyak hal sekaligus, termasuk hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi. Tanpa disadari, ini membuat overthinking semakin terbiasa.
Di sisi lain, dukungan dari lingkungan juga sangat penting. Keluarga, teman, serta pihak sekolah dan kampus perlu lebih peka. Hal sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi dan memberi ruang untuk bercerita juga sangat membantu. Kadang, yang dibutuhkan bukan solusi, tapi hanya seseorang yang mau mendengar.
Pada akhirnya, overthinking bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Jika terus dibiarkan, kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan pelajar dan mahasiswa, baik dalam proses belajar maupun kehidupan sosial. Namun, jika kita mulai lebih peduli dari hal-hal kecil seperti saling mendengarkan, memberi ruang untuk bercerita, dan mengurangi tekanan maka lingkungan yang lebih sehat secara mental dan lebih suportif masih bisa kita wujudkan di masa depan.
Penulis merupakan mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Datokarama Palu