Ketua Dewan Penguji, Prof. Mery Napitupulu, M.Sc., Ph.D, melihat potensi besar dari gagasan tersebut. Baginya, “kukusa” bukan hanya relevan secara lokal, tetapi juga berpeluang menjadi model pembelajaran yang lebih luas. “Ini bisa menjadi pilot project dari Parigi Moutong. Kalau adaptif, bisa diterapkan di banyak sekolah,” ungkapnya.
Tak berhenti di sana, dorongan pun menguat agar penelitian tersebut dilanjutkan ke jenjang doktoral. Sebab, inovasi pendidikan berbasis kearifan lokal dinilai membutuhkan pendalaman agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.
Di balik capaian itu, terselip cerita perjuangan yang tak sederhana. Perjalanan subuh dari Parigi menuju Palu menjadi rutinitas para guru yang menempuh studi. Disiplin, kebersamaan, dan semangat kolektif menjadi kekuatan yang menjaga mereka tetap bertahan.
“Kalau ibu Vivin ini saya kenal mulai dari semester satu dan semester dua. Mereka tuh subuh-subuh jam 4 sudah berangkat dari Parigi. Tapi nggak pernah telat, yang telat di kelas itu saya. Saya ketemu mereka ini kompak, akrab. Mereka bersemangat semua, punya kerjasama yang baik juga, satu tim gitu. Tidak ada yang egois mementingkan diri sendiri. Nah, Bu Vivin sendiri berprestasi sih, dan punya potensi juga. Jangan berhenti sampai master saja, sampai doktor boleh gitu,” harapnya.
Menariknya, di tengah dominasi mahasiswa muda, para guru justru tampil sebagai penopang. Mereka bukan hanya belajar, tetapi juga menjadi sumber semangat bagi generasi fresh graduate yang kerap goyah oleh tekanan akademik.
Pada ujian tutup tersebut, selain Prof Mery dan Purnama Ningsih sebagai ketua dan sekretaris dewan penguji, juga hadir anggota dewan penguji terdiri dari terdiri, Prof. Dr. H. Achmad Ramadhan, M.Kes, Prof. Dr. Hj. Siti Nuryanti, M.Si, Dr. Ir. Kasmudin Mustapa, S.Pd., M.Pd dan Dr. Afadil, S.Pd., M.Si.
Kini, dengan hadirnya program beasiswa “Berani Cerdas” dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi semakin terbuka. Tinggal bagaimana sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi benar-benar diwujudkan.
Sebab dari ruang-ruang sederhana itulah, masa depan pendidikan Parigi Moutong sedang dirajut—oleh guru-guru yang tak pernah berhenti belajar, dan tak ragu menatap mimpi hingga ke jenjang doktoral. AJI
