Oleh: Nur Syamsinar

Pernahkah kalian merasa tiba tiba enggan untuk berinteraksi dengan orang lain? Merasa energi sudah habis terkuras padahal belum bertemu orang lain.

Mungkin itu tandanya kalian harus membatasi diri. Membatasi diri bukan berarti mengurung diri, menjadi cuek, atau menjauh dari lingkungan. Namun, sikap seperti inilah yang justru menunjukkan kedewasaan seseorang dalam menjaga kesehatan mental dan emosinya. Terkadang, kita harus punya keberanian untuk berkata “tidak” demi menjaga diri sendiri dan mental kita.

Di dunia kampus, tidak jarang kita menganggap validasi yang diberikan hanyalah hal yang baik saja. Padahal, sejalan dengan validasi yang terdengar baik, validasi yang buruk akan selalu ada bahkan kita sendiri terkadang tidak sadar akan hal tersebut. Oleh karena itu, perlu kita ketahui dan sadar bahwa tidak hanya hal baik yang divalidasi, tetapi ada pula hal buruk yang sering kali diberi validasi hingga membawa kita ke dalam hal-hal negatif, entah itu memuji hubungan yang toxic, standar kecantikan ketika tidak menjadi diri sendiri, atau bahkan pertemanan dan lingkungan yang toxic.

Dalam tulisan ini, penulis memberikan gambaran mengenai validasi seperti apa yang dimaksud, apa yang harus kita batasi, mengapa harus diberi batasan, serta hal-hal lainnya.

Tidak jarang dari kita berpikir, “Apakah kita sudah dewasa?” Kita mulai dari apa itu dewasa dari pendapat beberapa ahli.

Kedewasaan menurut pemahaman kebanyakan orang ialah mampu berpikir logis dan tahu apa yang harus dia lakukan.

Namun, menurut Maslow (psikolog Amerika), orang dewasa adalah orang yang mampu mengaktualisasikan dirinya. Mereka mampu mengenali potensi dirinya dan menerima keadaan diri.

Serta, ahli psikolog kenamaan Santrock mendefinisikan dewasa adalah orang yang sudah berumur 20 hingga 40 tahun. Mereka mengalami masa transisi secara fisik, intelektual, dan sosial pada usia itu.

Kalau kalian setuju dengan pendapat yang mana?

Tapi menurut aku, bukan soal pendapat yang berbeda, melainkan tujuannya yang jelas sama, yaitu untuk mengetahui seberapa jauh seseorang berubah dalam hal mengenali potensi diri.

Kira-kira, dari beberapa pandangan ahli di atas, mana yang paling relate dengan pengalamanmu saat ini?

Memasuki usia remaja di mana kita mengalami transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa, tentu tubuh mengalami yang namanya perubahan, di antaranya perubahan fisik, kognitif (kemampuan berpikir), emosional, dan sosial.

Pada masa remaja, kita sering kali berpikir tidak butuh bantuan dan menolak bantuan dari orang tua ataupun guru. Karena ketidakmampuan untuk mengatasi masalah menurut pendapat yang kita yakini sendiri, banyak dari kita merasa tidak sesuai dengan ekspektasi yang kita inginkan (Hurlock, 1980).

Tidak sedikit pula di antara kita yang terjebak di lingkungan negatif. Hal ini bukan tanpa sebab; pengaruh-pengaruh negatif bisa datang dari berbagai faktor, bisa dari keluarga, pertemanan, asmara, hingga finansial.

Menurut Hurlock (2004), pada fase ini remaja memiliki keinginan untuk mencintai dan dicintai, yang merupakan ciri utama dalam kehidupan remaja. Remaja tidak bisa merasa bahagia tanpa kasih sayang dari orang lain, dan kebutuhan untuk memberi serta menerima cinta menjadi sangat penting, meskipun disembunyikan dengan baik (Sirojammuniro, 2020). Namun, perasaan cinta yang dialami remaja sering dikaitkan dengan kebahagiaan dan kesenangan sehingga dapat memicu perilaku yang negatif.

Sebagai mahasiswa aktif di bidang Bimbingan dan Konseling tentu membatasi diri bukan berarti menjauh, tapi memberikan batasan untuk diri agar tidak terpicu oleh hal yang hanya menguras energi dari dalam diri kita, Kenapa bisa demikian? Karena (ALODOKTER) setiap orang memiliki sosial battery yang berbeda yang menggambarkan seberapa banyak energi mental dan emosional yang dimiliki untuk berinteraksi sosial sebelum lelah, Jika sosial battery habis dan keadaan ini diabaikan serta terus memaksakan diri untuk tetap bersosialisasi, hal ini dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga berujung pada burnout.

Oleh karena itu penting untuk kita mengenali batasan sosial battery masing masing. Dengan memahami kapan energi sosial mulai menurun, kita dapat mengatur ritme aktivas, menyeimbangkan waktu bersosialisasi, dan memberikan ruang untuk diri sendiri untuk mengisi ulang energi mental.

membatasi diri adalah salah satu bentuk pertahanan untuk menjaga mental agar tetap sehat, dan dapat mengurangi tekanan sosial, semisalnya harus selalu tampil “baik” di depan semua orang serta menjaga diri dari lingkungan yang kurang mendukung, misal sering di bandingkan.

Kadang kita berfikir kapan saat untuk membatasi diri Dari hal hal yang kurang baik?

Kebingungan kebingungan seperti itu sering muncul Dan kita merasa ragu pada hal tersebut.

Berikut tanda tanda kapan saatnya kita harus membatasi dri:

  1. Ketika tidak dihargai, kebanyakan Dari kita merasa tidak dihargai namun hal tersebut sulit untuk kita rasa kebenarannya, seringkali tanda tanda itu muncul namun kita menolak akan hal tersebut, yang dimana situasi tersebut sering terjadi seperti ketika kita menyampaikan pendapat namun seringkali dialihkan ke pembahasan yang lain.
  2. Tidak sefrekuensi: hal tersebut sering terjadi,untuk merasakannya tentu kita harus bersosialisasi dan terlibat dalam pembahasan serta bergabung untuk membahas hal tersebut namun sudut pandang kita tidak sejalan dengan mereka yang kita temui.
  3. Ketika hal tersebut sudah mengarah ke hal negatif:dalam pertemanan,percintaan, dan pergaulan. Kegiatan positif dampak positif tentu tidaklah sedikit, namun kegiatan kegitan negatif yang tanpa kita sadari selalu kita lakukan, dengan alasan “yang lain juga lakukan masa kau tidak” padahal kita sendiri tau hal itu tidak baik untuk dilakukan dan kita lakukan.
  4. Terlalu sering di manfaatkan: dalam suatu lingkungan, pertemanan dan hubungan ada yang namanya feedback/timbal balik, tapi justru hal tersebut kadang membuat sebagian orang tidak memiliki kesadaran diri untuk memberikan hal yang lebih pada orang lain, dengan alasan “mereka sudah baik” padahal kata baik bukan hanya di liat dari perkataan tapi tindakan,perlakuan serta sikap/sifat mereka. Sehingga tidak ada yang namanya Feed Back yang berlebihan.

untuk mencegah hal tersebut kita harus memiliki self control untuk membentengi diri dari validasi yang positif Dan negatif demi menjaga kesehatan mental kita.

Self Control atau kontrol diri menurut (Albert Bandura) kemampuan individu untuk mengontrol perilakunya sendiri melalui tiga proses interaktif: pengamatan diri (self-observation), penilaian terhadap perilaku (judgmental process), dan reaksi terhadap diri sendiri (self-reaction). Dan Menurut (Ghufron dan Risnawita) Kontrol diri adalah kemampuan individu untuk merancang, membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa mereka ke arah konsekuensi positif. Kontrol diri menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keseimbangan emosi dan interaksi sosial.

Lebih jelasnya kita harus tau mana yang membuat diri kita nyaman dan aman berekspresi tanpa harus memaksakan hal hal di luar kendali kita, dan itu semua bisa di bangun melalui Lingkungan yang sehat,

Pertemanan yang saling mendukung/Sefrekuensi serta memiliki pasangan yang tidak hanya diam tapi ingin terus berkembang/bertumbuh bersama tanpa menghalangi jalan masing.

Penulis adalah mahasiswi bimbingan konseling Universitas Tadulako