SULTENG RAYA— Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengukuhkan 97 orang Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026 di Gedung Banua Kaili (GBK) Rusdy Toana, Kompleks Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Sabtu (5/9/2026) sore.

Pengukuhan tersebut menjadi langkah awal persiapan pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 19 hingga 21 November 2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Usai dikukuhkan, seluruh panitia diminta aktif mempersiapkan berbagai kebutuhan yang dinilai penting untuk memastikan pelaksanaan salah satu agenda nasional Persyarikatan Muhammadiyah tersebut berjalan lancar dan sukses.

Sulawesi Tengah dipercaya menjadi tuan rumah Tanwir Muhammadiyah 2026 setelah melalui proses penilaian dan berhasil menyisihkan 37 provinsi lainnya di Indonesia.

Ketua PP Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., mengatakan, menjadi tuan rumah Tanwir Muhammadiyah bukan perkara sederhana. Di satu sisi, Tanwir merupakan agenda permusyawaratan rutin Persyarikatan Muhammadiyah, namun di sisi lain, menjadi tuan rumah memiliki nilai prestise tersendiri bagi setiap wilayah.

“Menjadi tuan rumah itu memang gampang-gampang susah. Dikatakan gampang karena Tanwir itu biasa saja, permusyawaratan biasa. Cuma, di Muhammadiyah menjadi tuan rumah Tanwir itu sudah menjadi ajang adu prestise antarwilayah,” ujarnya.

Karena itu, Agung meminta kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Menurutnya, kesempatan menjadi tuan rumah Tanwir belum tentu kembali diperoleh dalam waktu dekat.

Ia memperkirakan, Sulawesi Tengah kemungkinan harus menunggu puluhan tahun untuk kembali mendapatkan kesempatan serupa. Hal itu karena setiap Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di Indonesia memiliki keinginan menjadi tuan rumah.

“Belum tentu Palu dan Sulawesi Tengah akan bisa menjadi tuan rumah Tanwir lagi dalam waktu mungkin 30 atau 40 tahun yang akan datang,” katanya.

Menurut Agung, dalam penentuan tuan rumah, wilayah yang sudah pernah menjadi penyelenggara biasanya akan memberikan kesempatan kepada wilayah lain yang belum pernah menjadi tuan rumah.

“Biasanya kalau sudah pernah, ‘ah ini dulu sudah pernah, giliran yang belum’,” ujarnya.

Ia menekankan, semangat fastabiqul khairat harus menjadi spirit utama dalam mempersiapkan Tanwir Muhammadiyah 2026. Setiap pelaksanaan Muktamar maupun Tanwir, kata dia, harus mampu menunjukkan kualitas yang semakin baik dari penyelenggaraan sebelumnya.

Peningkatan tersebut tidak hanya menyangkut fasilitas, tetapi juga keramahan, pengorganisasian, pelayanan kepanitiaan, liaison officer (LO), hingga berbagai aspek pendukung lainnya.

 “Kalau ada perhelatan kok kalah baik dibandingkan sebelumnya, itu dianggap aib di Muhammadiyah. Walaupun tidak ada sanksi, tapi merasa malu itu kok bisa kita kalah dengan sebelumnya,” ungkapnya.

Menurutnya, semangat tersebut menjadi bagian dari karakter Muhammadiyah sebagai organisasi yang membawa jargon Islam Berkemajuan. “Karena memang jargon yang kita bawa itu Islam Berkemajuan, ya harus maju!” tegas Agung.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tengah, Muh. Amin Parakkasi, S.Ag., M.HI., mengatakan, kepercayaan menjadi tuan rumah Tanwir Muhammadiyah 2026 tidak diperoleh dengan mudah.

Menurutnya, terdapat proses dan berbagai pertimbangan sebelum PP Muhammadiyah akhirnya memberikan kepercayaan kepada Sulawesi Tengah.

“Tidak gampang, tidak mudah menjadi tuan rumah. Penuh proses pertimbangan sampai Pimpinan Pusat memberikan kepercayaan kepada kita,” kata Amin.

Ia mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah Sulawesi Tengah menjadikan kesempatan tersebut sebagai momentum bersejarah dalam perjalanan Persyarikatan Muhammadiyah di daerah.

Amin mengatakan, menjadi tuan rumah Tanwir merupakan kebanggaan sekaligus kesempatan langka. Jika seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di Indonesia mendapat kesempatan secara bergiliran, belum tentu Sulawesi Tengah akan kembali dipercaya dalam waktu dekat.

“Bangga lah kita, Bapak/Ibu sekalian. Kita menjadi saksi sejarah perjalanan Persyarikatan Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Kita menjadi tuan rumah Tanwir. Kalau mau diantre seluruh provinsi, seluruh Pimpinan Wilayah di Indonesia, entah kapan lagi,” ujarnya.

Namun, kebanggaan tersebut, kata Amin, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kepercayaan yang diberikan PP Muhammadiyah merupakan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata.

“Dalam waktu yang bersamaan, kebanggaan itu harus diimbangi dengan tanggung jawab. Tanggung jawab harga diri kita agar kita menjadi tuan rumah yang terbaik,” katanya.

Amin optimistis seluruh unsur Muhammadiyah Sulawesi Tengah mampu menyukseskan pelaksanaan Tanwir Muhammadiyah 2026. Pengalaman dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan menjadi modal penting untuk menghadapi agenda nasional tersebut. “Kita optimis karena sudah banyak pengalaman yang kita lewati,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh panitia yang telah dikukuhkan untuk meluruskan niat dan bekerja secara sungguh-sungguh sebagai bagian dari perjuangan menyukseskan Tanwir.

Ia berharap amanah tersebut dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab sehingga Tanwir Muhammadiyah 2026 dapat berlangsung sukses dan meninggalkan kesan positif bagi seluruh peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ketua Panitia Penerima Tanwir Muhammadiyah 2026, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM., mengatakan, tugas yang diberikan kepada panitia merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh kesungguhan.

Menurut Rektor Unismuh Palu tersebut, penyelenggaraan Tanwir Muhammadiyah 2026 tidak hanya menyangkut kelancaran sebuah kegiatan nasional, tetapi juga membawa nama baik Persyarikatan Muhammadiyah Sulawesi Tengah.

“Ini adalah bentuk amanah yang diberikan kepada kita untuk melaksanakan dan menjalankan tugas yang tentunya tidak ringan. Karena ini adalah membawa nama baik organisasi kita yang kita cintai, yaitu Muhammadiyah,” ujar Rajindra.

Karena itu, ia menilai kekompakan dan rasa kebersamaan seluruh panitia menjadi faktor penting dalam menyukseskan pelaksanaan Tanwir.

Rajindra mengingatkan agar seluruh panitia dapat bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan tetap menjaga koordinasi dan komunikasi. “Kekompakan yang perlu kita jaga bersama. Kalau kita tidak kompak, pasti kita tidak akan berhasil menerima tamu-tamu kita dari seluruh Indonesia,” katanya. ENG