SULTENG RAYA — Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu menggelar Webinar Nasional bertajuk Ketahanan Keluarga Muslim di Era Digital, Jumat (4/9/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Membangun Keluarga Muslim yang Harmonis, Komunikatif, dan Berdaya di Tengah Derasnya Arus Digital.” Webinar ini menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Praktisi Dakwah dan Pengembangan Keluarga Muslim, Ustazah Azhimatul Noor Bashari Diyanti, S.Th.I., MA, serta Psikolog dan Konsultan Keluarga, Miftakhul Nuuril Azizah, S.Psi., MA.

Sementara itu, Ketua Program Studi Hukum Keluarga Islam Unismuh Palu, Ranny Apriani Nusa, SH., MH, tampil sebagai keynote speaker.

Dekan FAI Unismuh Palu, Dr. Moh. Rizal Masdul, S.Pd.I., M.Pd., saat membuka kegiatan mengatakan, webinar tersebut memiliki manfaat penting bagi civitas akademika, khususnya mahasiswa dan dosen, maupun masyarakat umum.

Menurut Rizal, ketahanan keluarga merupakan salah satu aspek penting yang harus terus dibangun dan dijaga, terlebih di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

“Melalui webinar nasional ini, peserta bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana membangun ketahanan keluarga,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan, ketahanan keluarga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan keluarga menghadapi persoalan ekonomi, tetapi juga mencakup ketahanan akhlak, kepribadian, spiritual, kejujuran, hingga komitmen antaranggota keluarga.

Nilai-nilai tersebut, kata Rizal, menjadi fondasi utama dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia mengingatkan, ketika nilai-nilai tersebut mulai rusak, ketahanan keluarga juga akan ikut melemah. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius adalah komunikasi antaranggota keluarga.

Rizal menilai, perkembangan teknologi digital tidak jarang membuat komunikasi langsung di dalam keluarga semakin berkurang. Kondisi tersebut dapat terlihat ketika anggota keluarga berada dalam satu rumah dan duduk bersama, tetapi masing-masing justru sibuk dengan telepon seluler.

“Sekarang ini, satu rumah dan duduk bersama, tetapi tidak berkomunikasi karena masing-masing masih memegang HP,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi tantangan apabila penggunaannya tidak dikendalikan dengan baik. Karena itu, keluarga perlu membangun pola komunikasi yang sehat agar keberadaan teknologi tidak justru menjadi penghalang hubungan antaranggota keluarga.

Meski demikian, Rizal menegaskan bahwa teknologi tidak seharusnya dimusuhi. Teknologi memiliki banyak manfaat apabila dimanfaatkan secara tepat dan bertanggung jawab.

Ia mencontohkan penggunaan aplikasi konferensi daring seperti Zoom yang dapat mendukung kegiatan akademik, termasuk pelaksanaan perkuliahan jarak jauh. “Teknologi tidak perlu dimusuhi karena begitu besar manfaatnya. Yang perlu diperbaiki adalah pemanfaatannya,” tegasnya.

Karena itu, menurut Rizal, pengendalian dalam penggunaan teknologi perlu dibarengi dengan penguatan ketahanan spiritual dalam keluarga. Nilai-nilai agama harus menjadi landasan agar setiap anggota keluarga mampu menggunakan teknologi secara bijak.

Rizal juga mengingatkan adanya berbagai dampak negatif yang dapat muncul akibat penyalahgunaan teknologi dan lemahnya komunikasi dalam keluarga. Persoalan tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya konflik keluarga, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, hingga berbagai bentuk tindakan kekerasan lainnya.

Ia menilai, salah satu persoalan mendasar yang perlu diperbaiki adalah adanya sumbatan komunikasi di antara anggota keluarga. “Banyak persoalan yang terjadi karena adanya sumbatan komunikasi antaranggota keluarga,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap webinar nasional tersebut tidak hanya menjadi forum untuk menambah wawasan akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi peserta mengenai pentingnya membangun keluarga yang harmonis, komunikatif, dan memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman.

Kegiatan webinar nasional tersebut diikuti civitas akademika FAI Unismuh Palu, mulai dari dosen dan mahasiswa, serta sejumlah peserta dari kalangan masyarakat umum. ENG