SULTENG RAYA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi Sulawesi Tengah (Sulteng). Memasuki periode kemarau, kondisi lahan yang semakin kering, suhu yang meningkat, kelembapan rendah, serta angin yang dapat mempercepat penyebaran api meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa pada periode Januari–Juni 2026, luas areal karhutla di Sulawesi Tengah telah mencapai sekitar 4.147 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan lagi persoalan insidental, tetapi merupakan ancaman yang perlu ditangani melalui strategi pencegahan dan pengelolaan lanskap secara lebih serius.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang didasarkan pada pantauan satelit Terra/Aqua NASA, jumlah titik panas di Sulawesi Tengah pada periode 1 Januari hingga 15 Juni 2026 mencapai 1.007 titik atau meningkat 205 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebanyak 330 titik.
Lonjakan juga terjadi pada luas lahan terbakar. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, karhutla di Sulawesi Tengah mencapai 2.222,24 hektare, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 312,15 hektare. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2019.
Bahkan saat ini, Sulawesi Tengah telah dikategorikan sebagai salah satu provinsi dengan pola kerawanan karhutla baru. Data terbaru, Sulawesi Tengah masuk dalam 10 besar provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak di Indonesia, dengan jumlah titik panas mencapai 263 titik.
Touna Siaga Darurat Karhutla
Tahun ini, Kabupaten Tojo Una-una (Touna) adalah salah satu kabupaten yang paling terdampak Karhutla, pada 17 Agustus 2026 misalnya, kebakaran melanda kawasan Gunung Kalendang, Desa Balinggara, berdampak pada sekitar 20 hektare lahan.
Api dilaporkan bermula dari lahan warga dan kemudian merembet ke kawasan hutan. Kebakaran itu, bukan pertama kali terjadi, karena sejak 30 juli 2026 area yang sama juga telah mengalami Karhutla. Ancaman Karhutla di Touna terdapat di sepanjang pesisir timur yang berbatasan dengan teluk tomini, dari wilayah Tojo hingga Balingara.
Melalui surat Keputusan nomor 100.3.3.2/ 20 /BPBD/2026 Bupati Tojo Una-una telah menetapkan status Siaga Daurat Bencana Karhutla, dengan mempertimbangkan kecenderungan peristiwa Karhutla dan potensi Karhutla yang diukur melalui parameter Fire Danger Ranting System (FDRS) Stasiun Meteorologi kelas 1 Mutiara Sis Al-jufri.
Berdasarkan parameter itu, diperkirakan potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sulawesi Tengah saat ini berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi pada sejumlah Kabupaten/Kota, salah satu kabupaten yang memiliki potensi bencana Hidrometeorologi (kekeringan, Cuaca Ekstrim) serta Kebakaran Hutan dan Lahan wilayah adalah kabupaten Kabupaten Tojo Una-Una.
Bukan hanya di Touna. Data NASA FIRMS menunjukan bahwa persitiwa Karhutla dalam sepekan terakhir juga terjadi di Morowali, Banggai, Poso, dan Banggai Kepulauan, Buol dan Tolitoli. Menurut BPBD Kondisi kering yang meluas sejak akhir Juli hingga awal Agustus turut meningkatkan kerentanan vegetasi dan lahan terhadap kebakaran.
Karhutla Bukan Hanya Persoalan Api