Direktur Karsa Institute, Rahmat Saleh memandang karhutla sebagai persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar kejadian kebakaran. Ketika api memasuki kawasan hutan dan ekosistem penting, dampaknya dapat berlangsung jauh lebih lama dibandingkan durasi kebakaran itu sendiri.
Karhutla menyebabkan hilangnya tutupan vegetasi, rusaknya habitat satwa liar, menurunnya kualitas tanah dan air, meningkatnya emisi karbon, serta terganggunya sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
Di sisi lain, masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan dan lahan juga menghadapi risiko langsung berupa asap, gangguan kesehatan, kerusakan kebun dan sumber penghidupan, serta meningkatnya biaya untuk memulihkan lahan yang terbakar.
Karena itu, pendekatan penanggulangan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul, kedepan Upaya Pencegahan harus menjadi prioritas utama.
Perubahan Iklim Memperbesar Risiko
BMKG telah mengingatkan bahwa sejumlah wilayah Sulteng berada pada tingkat kemudahan kebakaran kategori sedang hingga sangat tinggi, terutama ketika kondisi suhu tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang terjadi secara bersamaan.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya mengintegrasikan informasi iklim dan cuaca ke dalam pengelolaan lahan dan pencegahan kebakaran. Perubahan iklim tidak selalu menjadi penyebab langsung terjadinya kebakaran. Namun, kondisi iklim yang semakin kering dapat membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api ketika sumber api muncul.
Apa yang Perlu Dilakukan Saat Ini?
Sejumlah NGO terdiri dari (Karsa Institute, IMUNITAS, KOMIU, Libu Perempuan, Perkumpulan Evergreen Indonesia dan ROA (Relawan untuk Orang dan Alam) menyatakan peningkatan titik panas dan kejadian Karhutla yang meluas membutuhkan penanganan simultan dalam jangka pendek dan menengah. Tindakan kedaruratan saat ini dibutuhkan di beberapa kabupaten, seperti Touna dan Banggai, apalagi puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September atau pertengahan oktober.
Dalam jangka menengah, pengendalian kebakaran di masa mendatang perlu berfokus pada peningkatan kapasitas pencegahan kebakaran yang berbasis masyarakat dan desa.
Beberapa langkah yang perlu diperkuat diantaranya, Membangun sistem peringatan dini berbasis masyarakat, dengan memanfaatkan informasi cuaca, kondisi tutupan lahan, dan pemantauan titik panas; Memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam pencegahan, deteksi dini, dan respons awal terhadap kebakaran.
Kemudian mendorong pengelolaan lahan tanpa pembakaran, terutama dalam pembukaan dan pembersihan lahan pertanian; Membangun kesepakatan desa mengenai pencegahan karhutla, termasuk aturan dan mekanisme respons ketika terjadi kebakaran; Melindungi kawasan hutan dan ekosistem penting, terutama kawasan dengan nilai keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis yang tinggi; dan Memperkuat kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, Kesatuan Pengelolaan Hutan, aparat penegak hukum, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil. AMR