SULTENG RAYA – Derap langkah dan teriakan instruksi pelatih memecah suasana Lapangan Sepak Bola Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kamis (11/6/2026). Sejak pagi, ratusan pesepakbola muda dari berbagai kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yakni menggapai kesempatan mengenakan seragam kebanggaan daerah pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah 2026 di Kabupaten Morowali.
Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Parigi Moutong resmi memulai seleksi pemain Porprov untuk Zona 1. Sebanyak 110 pemain ambil bagian pada hari pertama seleksi. Mereka berasal dari Kecamatan Sausu, Balinggi, Torue, Parigi Barat, Parigi, Parigi Tengah, Parigi Utara, Siniu, Ampibabo, Toribulu, hingga Kasimbar.
Dari ratusan pemain tersebut, hanya 40 orang yang berhasil melangkah ke tahap seleksi berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (12/6/2026). Proses penyaringan dilakukan secara ketat untuk mendapatkan pemain-pemain terbaik yang nantinya akan memperkuat tim sepak bola Kabupaten Parigi Moutong.
Tim seleksi yang dibentuk Askab PSSI Parigi Moutong dipimpin oleh Dr. Kasmuddin Mustapa, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Ibrahim, Suratman, dan Zainal. Proses penilaian turut diperkuat oleh pelatih berlisensi A, Napoleon, yang bertugas mengamati kualitas teknis dan mental para pemain.
Seleksi berlangsung dalam dua sesi, yakni pagi hari mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WITA dan dilanjutkan pada sore hari pukul 14.00 sampai 17.00 WITA. Para pemain dibagi ke dalam beberapa tim untuk menjalani pertandingan internal. Masing-masing ditempatkan sesuai posisi yang dipilih saat pendaftaran, meski beberapa kali dilakukan rotasi untuk melihat konsistensi permainan mereka.
Ketua Askab PSSI Parigi Moutong, Efendi Batjo, menegaskan bahwa seluruh proses seleksi berjalan secara profesional tanpa adanya intervensi maupun praktik titipan pemain. “Saya ingin menyampaikan, berjuanglah, berlatihlah, tunjukkan kemampuan kalian. Kalau kalian lolos ke Porprov, inilah pintu sukses kalian. Tidak ada pemain titipan. Semua yang terpilih berdasarkan kemampuan masing-masing. Tujuan kita hanya satu, membawa nama baik Parigi Moutong,” tegas Efendi di hadapan para peserta.
Ia juga mengingatkan agar pengalaman pada Porprov sebelumnya tidak terulang kembali. Menurutnya, salah satu faktor yang membuat Parigi Moutong kehilangan kekuatan adalah karena sejumlah pemain memilih membela daerah lain. “Yang kita lawan orang Parigi Moutong juga di sana. Cuma karena nilai Rp500 ribu. Di mana jiwa kita sebagai anak daerah? Jangan kita jual daerah ini hanya dengan Rp500 ribu. Tanamkan itu dalam hati,” pesannya.