SULTENG RAYA – Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Pantai Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Sabtu (6/6/2026). Di tengah semilir angin pantai dan kebersamaan para insan pendidikan, Koordinator Wilayah (Korwil) Satuan Pendidikan Kecamatan Parigi Utara menggelar acara pelepasan bagi guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang telah menuntaskan masa pengabdiannya sebagai aparatur pendidikan.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan dan apresiasi atas dedikasi panjang para pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk mencerdaskan generasi bangsa. Sebanyak empat orang memasuki masa purna bakti, terdiri dari tiga guru dan satu tenaga kependidikan.

Mereka adalah Ilham, yang terakhir bertugas di SD Inpres 1 Toboli dengan masa pengabdian selama 26 tahun 11 bulan, Nirwan, S.Pd.SD dari SDK Pangi dengan masa pengabdian mencapai 42 tahun, Rada, S.Pd dari SDK Toboli Barat yang telah mengabdi selama 38 tahun, serta Etje, tenaga kependidikan dari SDN Inti Pangi dengan masa pengabdian selama 20 tahun.

Puluhan guru, kepala sekolah SD dan TK se-Kecamatan Parigi Utara hadir dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, acara pelepasan bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk mengenang perjalanan panjang para pendidik yang telah melewati berbagai perubahan zaman dalam dunia pendidikan.

Korwil Satuan Pendidikan Parigi Utara, Wardin, S.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para guru dan tenaga kependidikan yang telah mengabdikan diri sejak usia muda hingga memasuki masa pensiun.

“Selama mengabdi di beberapa tempat tentu jasa-jasa teman-teman sudah sangat banyak karena mengabdi sejak dari usia muda hingga rambut beruban dengan segala suka dan dukanya, mulai dari penggunaan kapur tulis hingga menggunakan laptop seperti saat ini,” ujarnya.

Menurut Wardin, perubahan teknologi dan sistem pembelajaran yang terus berkembang telah dilalui oleh para guru purna bakti dengan penuh kesabaran dan komitmen. Dari ruang kelas sederhana hingga era digital, mereka tetap menjalankan tugas sebagai pendidik dengan semangat yang tidak pernah surut.

Ia juga mengingatkan bahwa sesungguhnya tugas seorang guru tidak berakhir ketika masa dinas selesai. Nilai-nilai pendidikan akan terus hidup melalui keteladanan yang diberikan kepada keluarga maupun masyarakat. “Jadi sampai kapan tugas kita ini selesai, Bapak Ibu? Nanti kita bangun pagi sudah tidak lihat matahari. Nah, sudah tidak lihat matahari berarti kita sudah meninggal. Sampai di situ tugasnya kita jadi guru,” tutur Wardin yang disambut senyum dan tepuk tangan para peserta.