Penulis: Imam Arifki / Mahasiswa UIN Datokarama Palu
Pernahkah kita menunggu seseorang yang sudah berjanji hadir tepat waktu, namun kenyataannya baru muncul tiga puluh menit kemudian tanpa rasa bersalah sedikit pun? Atau mungkin kita sendiri yang pernah berada di posisi tersebut, datang terlambat, lalu berdalih macet, hujan, atau sekadar lupa? Jika pengalaman semacam ini terasa sangat familiar, maka kita sedang berbicara tentang sebuah persoalan yang jauh lebih dalam dari sekadar urusan jam dan menit.
Keterlambatan, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, seolah telah kehilangan statusnya sebagai sesuatu yang memalukan. Ia berubah menjadi hal yang wajar, bahkan dalam banyak situasi, dianggap lumrah. Fenomena “jam karet” yang sudah begitu akrab di telinga masyarakat kita bukan lagi sekadar sindiran, melainkan cerminan nyata dari cara sebagian besar kita memperlakukan waktu.
Masalah keterlambatan bukan semata soal individu yang tidak disiplin. Lebih dari itu, ia mencerminkan bagaimana sebuah masyarakat memandang nilai waktu secara kolektif. Ketika seseorang terlambat sekali, itu bisa disebut kecelakaan. Ketika terlambat menjadi pola yang berulang, itu adalah kebiasaan. Namun ketika kebiasaan tersebut diterima, dinormalisasi, bahkan dimaklumi oleh lingkungan sosial secara luas, maka kita tidak lagi bicara soal individu, melainkan bicara soal budaya.
Di sinilah letak persoalannya. Keterlambatan bukan hanya urusan pribadi seseorang dengan jam tangannya, tetapi merupakan bentuk relasi sosial. Ketika seseorang terlambat, ada pihak lain yang menunggu. Ada energi yang terbuang, ada rencana yang berantakan, ada kepercayaan yang sedikit demi sedikit terkikis. Dalam konteks profesional, keterlambatan bisa berarti hilangnya peluang, rusaknya reputasi, bahkan berujung pada kerugian material yang nyata.
Banyak orang menganggap keterlambatan sebagai masalah sepele yang bisa diselesaikan dengan niat baik semata. Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada beberapa faktor yang justru menjadi akar dari kebiasaan ini. Pertama, lemahnya kesadaran akan dampak sosial. Sebagian besar orang yang sering terlambat tidak menyadari bahwa tindakan mereka berdampak pada orang lain. Mereka hanya melihat keterlambatan dari sudut pandang diri sendiri: “saya Cuma telat sebentar.” Padahal bagi pihak yang menunggu, “sebentar” bisa terasa sangat panjang dan melelahkan.