SULTENG RAYA-Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni menjadi momentum penting bagi setiap warga negara termasuk civitas akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur bangsa. Di tengah gempuran arus informasi dan teknologi digital, kampus dinilai harus menjadi benteng utama dalam menjaga dan mengamalkan Pancasila.

​Rektor Unismuh Palu, Prof. Dr. H. Rajindra, SE., MM menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh sekadar menjadi pajangan teks atau dihafal saat seremonial belaka. Bagi dunia perguruan tinggi, Pancasila adalah kompas moral dalam berpikir dan bertindak. “Pancasila itu bukan ideologi mati yang hanya dibicarakan setiap tanggal 1 Juni. Bagi kita di Unismuh Palu, Pancasila adalah instrumen hidup. Kampus, mahasiswa, dan dosen punya tanggung jawab besar untuk menerjemahkan lima sila tersebut menjadi aksi nyata di tengah masyarakat,” ujar Prof. Rajindra saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2026)/

​Menurut Prof. Rajindra, dosen memegang peranan krusial sebagai jangkar nilai-nilai Pancasila di dalam kelas. Tugas dosen di era modern bukan lagi sebatas mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga menanamkan karakter dan etika (transfer of values).

​Dalam konteks catur dharma perguruan tinggi, dosen diharapkan mampu mengintegrasikan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial ke dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. “Dosen harus menjadi teladan. Ketika melakukan penelitian atau pengabdian, tujuannya harus jelas, yaitu demi kemaslahatan masyarakat dan keadilan sosial. Itu adalah pengamalan nyata dari sila kelima,” tambahnya.