SULTENG RAYA – Dalam satu dekade terakhir, transformasi industri Indonesia tidak hanya mengubah struktur ekonomi nasional, tetapi juga memacu dunia pendidikan beradaptasi dengan realitas teknologi modern. Kawasan manufaktur terintegrasi seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), hadir sebagai simpul strategis yang mempertemukan produksi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam skala global. Hilirisasi industri terbukti tidak sekadar menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menggeser sistem pendidikan dalam memaknai pembelajaran teknologi.

IMIP kini berkembang sebagai laboratorium hidup, tempat teori bertemu praktik dan mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang dinamika industri modern. Dalam konteks tersebut, muncul pendekatan baru, membawa dosen langsung ke dalam ekosistem industri melalui program magang. Agenda tersebut tak sekadar pelatihan, melainkan intervensi strategis untuk mengatasi keterputusan antara kampus dan dunia kerja.

Melalui keterlibatan langsung di lapangan, dosen tidak hanya mengamati proses produksi, tetapi memahami bagaimana teori berubah menjadi sistem teknologi yang kompleks dan terintegrasi. Dampaknya bersifat sistemik. Mengubah cara mengajar, cara berpikir mahasiswa, hingga arah pengembangan SDM nasional.

Akademisi dari Politeknik ATI Makassar, Dr. Idi Amin, mengakui, program magang dosen ini sejalan dengan kebijakan Link and Match Pendidikan Vokasi Industri yang menekankan pentingnya keselarasan antara pendidikan dan kebutuhan industri. Magang dosen menjadi instrumen konkret untuk mempercepat adaptasi tersebut.

Di kawasan IMIP, dosen berhadapan langsung dengan ekosistem industri berskala besar. Mulai dari rantai pasok global, sistem otomasi, manajemen energi, hingga pengendalian lingkungan. Dosen Teknik Kimia Mineral yang juga Praktisi Lingkungan itu melihat jelas bahwa industri modern bukan hanya produksi, tetapi orkestrasi kompleks antara efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan.

“Pengetahuan yang diperoleh dari industri diterjemahkan kembali ke dalam pembelajaran berbasis studi kasus, dan simulasi proses. Teori tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terhubung langsung dengan problem industri. Dalam kerangka akademik, kolaborasi ini mencerminkan konsep Triple Helix Innovation, sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah. Transfer teknologi tidak berhenti di wacana, tetapi masuk ke ruang kelas, laboratorium, dan riset terapan,” jelas Idi Amin, Senis (13/4/2026).