SULTENG RAYA – Langkah pertama Kapolres Parigi Moutong (Parmout), AKBP Heri Edrino Sihombing, memasuki Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Parigi Moutong, Selasa, (20/10/2026), disambut dengan perpaduan tradisi kepolisian dan kearifan lokal masyarakat Suku Kaili.
Tradisi pedang pora yang dibawakan sejumlah perwira Polres berpadu dengan prosesi adat Kaili, menghadirkan suasana penyambutan yang sarat makna. Bukan sekadar seremoni, penyambutan tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus pengenalan Kapolres baru dengan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat setempat.
Didampingi sang istri, Heri Edrino mengawali prosesi dengan memasuki gerbang Mapolres Parmout. Kedatangannya disambut Wakapolres, Kompol Henri Burhanuddin, yang melaporkan kesiapan pelaksanaan acara penyambutan.
Keduanya kemudian berjalan di atas karpet merah, melewati barisan perwira yang membentuk gerbang pedang pora. Dalam tradisi kepolisian, pedang pora lazim menjadi bentuk penghormatan kepada pejabat yang memasuki penugasan baru, sekaligus menandai awal perjalanan pengabdian di tempat tugas.
Tidak hanya itu, dua tokoh adat Suku Kaili menyambut Kapolres dengan pemasangan siga, penutup kepala tradisional, serta sampolu, kain yang dikenakan sebagai penutup kepala bagi perempuan.
Prosesi kemudian berlanjut dengan melewati rangkaian daun enau yang diiringi dua tokoh adat. Setibanya di depan pintu masuk kantor, Kapolres kembali mengikuti prosesi adat dengan menginjak batu, dipandu seorang tokoh adat yang memberikan arahan menggunakan bahasa Kaili.
Penyambutan semakin semarak dengan penampilan Tari Pontanu, tarian yang dalam acara tersebut menjadi bagian dari penyambutan tamu kehormatan. Gerak tari dan iringan pertunjukan budaya menambah kekhasan prosesi, sekaligus memperlihatkan kekayaan tradisi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah.
Penyambutan Kapolres baru melalui tradisi pedang pora dan adat Kaili dapat dimaknai lebih dari sekadar rangkaian acara protokoler. Momentum tersebut menjadi gambaran pertemuan antara institusi kepolisian dengan identitas budaya masyarakat yang menjadi bagian dari wilayah pengabdiannya. AJI