Di tengah keberagaman latar belakang masyarakat Parigi Moutong, para mahasiswa juga diingatkan agar menjadikan penghormatan terhadap adat istiadat dan budaya setempat sebagai bagian penting dari pengabdian.

Bupati berpesan agar mahasiswa membangun hubungan baik dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, pemuda, serta kaum perempuan di desa penempatan. Sikap terbuka dan kemampuan beradaptasi dinilai penting agar program yang dijalankan dapat diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga menilai tema Moderasi Beragama dan Desa Cerdas sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Parigi Moutong, yakni Maju, Mandiri, dan Berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Datokarama Palu, Atok Soeharto, mengingatkan bahwa KKN merupakan proses pembelajaran yang membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas menuju kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

“Tempat kalian kuliah dipindahkan dari kelas ke lapangan. KKN adalah implementasi dan pengintegrasian ilmu yang sudah didapatkan di kelas dengan apa yang akan ditemukan di lapangan,” ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman selama KKN akan mempertemukan pengetahuan akademik dengan beragam persoalan, kebutuhan, serta dinamika sosial masyarakat. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu menempatkan diri, membangun komunikasi, dan menerapkan ilmu secara bijaksana sesuai kondisi di lapangan.

Atok juga menekankan pentingnya menjaga karakter islami sebagai identitas mahasiswa UIN Datokarama Palu. Ia meminta seluruh peserta KKN senantiasa menjaga tutur kata, menghormati kebiasaan masyarakat, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah desa dan warga setempat.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di pundak kalian ada karakter islami yang harus selalu melengkapi diri kalian,” pesannya.

Turut hadir pada kegiatan itu, Wakil Bupati, Abdul Sahid, Kepala OPD dan para dosen UIN Datokarama Palu. AJI