Ia mengaku, PT IMIP terus mengupayakan langkah-langkah penanggulangan dan pencegahan kedepannya. Untuk jangka menengah, pihak perusahaan sudah beberapa kali melakukan diskusi dengan tokoh masyarakat setempat dan aparat pemerintah desa dalam pengadaan alat pengeboran mekanis (jacro) untuk menambah kedalaman sumur warga, termasuk penyediaan bak penampung berbahan fiber atau tandon air di setiap desa.

Sedangkan untuk program jangka panjang, IMIP juga sudah merencanakan program berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten untuk penyediaan air bersih dengan sistem pengaliran air menggunakan jaringan pipa menuju pemukiman warga secara terstruktur.

Jaimu menegaskan, konsep tersebut sudah dirancang jauh sebelum kondisi kekeringan melanda. Namun sampai saat ini, metode perpipaan yang dirancang belum dapat terealisasi. Sebab sumber air utama air dari bendung di kilometer 16, masih dalam masa konstruksi.

Selain itu, opsi jangka panjang lainnya dikatakan Jaimu adalah dengan pembuatan infrastruktur pengambilan air (intake) di Sungai Makarti. Kendati sudah rampung, masih perlu pembuatan sarana penunjang untuk pengolahan dan distribusi air bersih secara terpadu. Jaimu mengaku, program tersebut merupakan kolaborasi antara IMIP dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Pemerintah Kabupaten Morowali.

“Saat ini, kami terus memantau kondisi cuaca dan ketersediaan air. IMIP akan mengevaluasi distribusi berikutnya. Jika kekeringan berlanjut atau kebutuhan masyarakat meningkat, tentu kami akan memertimbangkan, sesuai tingkat kebutuhan warga, kondisi sumber air, serta kemampuan operasional di lapangan,” pungkasnya. *WAN