Faradiba mengatakan, upaya tersebut dapat dimulai secara bertahap dengan menargetkan sekitar 10 persen dari aktivitas ekspor yang saat ini dikirim melalui provinsi lain. Dengan menggunakan asumsi nilai rupiah dalam perhitungan awal, potensi nilai yang dapat ditarik berada di kisaran Rp1,3 triliun.

“Yang penting kita tahu komoditasnya, pelabuhannya, pelaku usahanya, kebutuhan infrastrukturnya, kemudian kita siapkan ekosistemnya,” katanya.

Ia menilai, pembangunan Pelabuhan Pantoloan perlu dipandang tidak hanya sebagai pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai bagian dari strategi perdagangan dan logistik daerah. Menurutnya, meningkatnya aktivitas ekspor melalui Sulawesi Tengah akan membuka kebutuhan investasi baru, seperti cold storage, gudang, depo kontainer, jasa angkutan, logistik, freight forwarding, packaging, perbankan hingga industri pengolahan.

“Kita harus menciptakan ekosistem yang membuat perusahaan swasta melihat Sulawesi Tengah sebagai lokasi yang rasional untuk membangun gudang, pusat logistik dan fasilitas pendukung ekspor. Jangan hanya komoditasnya yang keluar dari Sulteng, tetapi nilai ekonominya juga harus semakin banyak tinggal di Sulteng,” tegas Faradiba. AJI