Ia lebih dulu membangun kos-kosan sebelum melihat kebutuhan layanan transaksi perbankan di tengah bertambahnya pekerja kawasan. Pada akhir 2016 ia mengajukan diri sebagai agen BRILink dan mulai beroperasi Juli 2017. Dari hanya tujuh transaksi pada hari pertama, kini dua gerai BRILink yang dikelolanya bisa melayani sekitar 2.000-2.500 transaksi dengan nilai Rp3-4 miliar per bulan.

Transaksi melonjak terutama saat periode pembayaran gaji, sehingga Azis beberapa kali harus ke bank untuk menambah persediaan uang tunai. Sekitar 60-70 persen pelanggannya adalah karyawan IMIP. Pertumbuhan bisnis perbankannya itu membuat Azis beberapa kali memperoleh apresiasi dari Bank BRI. “Waktu volume transaksi mencapai sekitar 15.000 per bulan atau 500 per hari, saya dapat hadiah Honda Mobilio. Pernah juga dapat dua unit sepeda motor, dua unit mobil, dan emas,” kata Azis.

Keuntungan utamanya, kata Azis, hanya dari margin jasa transfer dan tarik tunai. Kini dia kembali melihat peluang dari pertumbuhan IMIP dan berencana mencari lokasi lebih dekat dengan pusat aktivitas kawasan untuk mengembangkan layanan BRILink sekaligus usaha makanan dan minuman.

Azis, memang punya alasan yang cukup kuat untuk sekadar survive atau membuka cabang membangun gurita usaha mereka. Dari survei UMKM Tim SGA PT IMIP mencatat sektor kuliner sebagai usaha terbesar di Bahodopi. Ada 2.107 unit dari 7.643 UMKM, termasuk 111 kafe dan restoran.

Satu kebutuhan lain yang juga sangat krusial di Bahodopi. Hunian. Mayoritas karyawan IMIP adalah perantau. Kos-kosan menjadi pengganti rumah untuk berlindung. 19 tahun lalu, jauh sebelum tiang pancang kawasan di tanam, kos-kosan hanya dimiliki oleh satu orang. Namanya Nasrudin (60 thn) warga Fatufia. “Usaha kos-kosan di Bahodopi itu, awalnya di Desa Fatufia di tahun 2007. Waktu adanya BDM (BintangDelapan Mineral), yang buat kos pertama itu, saya,” kenang Nasrudin.

Sewa kos saat itu, kata dia, masih Rp150 ribuan per kamar. Awalnya hanya 5 kamar saja yang dia bangun. Seiring berkembangnya kawasan IMIP, dan tambahan modal dari bank, Nasrudin sekarang sudah punya 30 kamar kost.

Sebagai salah satu kebutuhan primer, warga lokal memang melihat usaha kos-kosan ini bisa sangat menguntungkan. Orang-orang yang datang dengan niat bekerja, menjadikan kos-kosan sebagai pilihan pertama waktu mereka menginjakkan kaki di Bahodopi. Makanya, tidak sedikit dari mereka menjual sebidang lahan sebagai tambahan modal untuk mendirikan bangunan. “Makin bertambah karyawan, otomatis usaha kos-kosaan kami semakin berkembang dan ramai juga,” optimis Nasrudin.

Sejak awal, IMIP menyadari, membangun ekosistem nikel yang terintegrasi, dari pengolahan bijih, smelter, hingga rantai pasok energi, tidak akan lengkap tanpa adanya inklusi sosial-ekonomi. Selama 13 tahun terakhir, IMIP menjadi mitra strategis pelaku usaha yang ada di sekitar kawasan industri.

Membuka pintu lebar-lebar bagi para kontraktor daerah, penyedia logistik, perajin, hingga ratusan pelaku UMKM kuliner dan hunian yang menjadi penopang kehidupan puluhan ribu pekerja di kawasan ini. Satu hal yang penting menjadi catatan, dalam dimensi berbeda, perkembangan kawasan IMIP memang tak lepas dari peran para pelaku usaha di Bahodopi.

Maka potret Bahodopi tak cukup dibaca dari produksi nikel atau nilai investasi. Ia juga terbaca dari gelas kopi yang diseduh Yudi, dari 2.000 transaksi Azis, dari 30 kamar Nasrudin. Semuanya berputar karena ada ribuan pekerja yang datang. Dan semuanya berhenti bila satu kata itu terjadi, “tutup”. WAN