Menariknya, mahasiswa pendamping turut berkontribusi dengan membuat ringkasan materi anti-perundungan yang dilengkapi ilustrasi tokoh dalam video edukasi. Media tersebut mendapat apresiasi dari peserta karena dinilai menarik sekaligus membantu memudahkan pemahaman terhadap materi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala SMAN 1 Banawa, Hadijah, S.Pd., bersama para guru. Pihak sekolah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program yang dinilai relevan dengan kebutuhan siswa di tengah meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja.
Hadijah mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai perundungan penting diberikan kepada siswa sebagai bagian dari upaya membentuk karakter yang peduli, memiliki empati, serta mampu menjaga kesehatan mental diri sendiri dan teman sebaya.
Sementara itu, tim pengabdian kepada masyarakat berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya sekolah yang bebas dari perundungan. “Remaja perlu dibekali kemampuan mengenali bullying, berani melapor, serta saling mendukung agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan positif,” ujar Eli.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan tidak hanya mampu mengenali dan mencegah bullying maupun cyberbullying, tetapi juga berani mengambil peran sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung kesehatan mental.
Dengan demikian, upaya pencegahan perundungan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru dan pihak sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh siswa dalam membangun budaya saling menghormati dan peduli terhadap sesama. AMR