“Bukan berarti alat ini tidak diberikan kepada petani. Tetapi mekanismenya bukan lagi hibah. Alat dipinjam-pakaikan, sehingga ketika rusak masih bisa diperbaiki pemerintah melalui APBD,” jelasnya.

Gubernur Anwar Hafid menegaskan, modernisasi bukan sekadar menghadirkan mesin ke lahan pertanian, tetapi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah persepsi generasi muda terhadap profesi petani. Menurutnya lagi, dukungan pemerintah juga harus mencakup bibit, pupuk, alsintan hingga kepastian harga gabah, sehingga bertani tidak hanya menjadi pekerjaan tradisional, tetapi profesi yang produktif dan memiliki masa depan.

Dalam kesempatan itu, Gubernur membuka ruang dialog melalui Rembuk Tani untuk mendengar langsung kebutuhan dan persoalan petani di lapangan. Dengan potensi lahan pertanian yang luas, ia optimistis Sulawesi Tengah dapat memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional sekaligus melahirkan generasi petani baru yang lebih adaptif terhadap teknologi.

Sementara itu, Bupati Banggai Ir. H. Amirudin, S.P., M.M mengapresiasi perhatian Pemprov Sulteng terhadap pengembangan pertanian. Menurutnya, Brigade Pertanian akan memudahkan petani memperoleh akses terhadap alsintan tanpa harus memiliki peralatan secara pribadi.

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyerahan alsintan, bantuan combine harvester dan bibit padi kepada petani, serta panen raya sebagai bagian dari gerakan percepatan produksi pangan di Sulawesi Tengah. WAN