Yulius menjelaskan, pengembangan PLTS di IMIP tidak menggunakan satu model seragam. Teknologi disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing fasilitas. PT GCNS dan ITSS memanfaatkan area atas kanal melalui konsep Canal Top Solar PV, sedangkan OSMI, BTR, PMMI, QMB, dan DSI memasang PLTS atap pada bangunan industri.

“Memang tidak mudah, karena penerapan energi listrik berbasis tenaga surya ini memiliki kebutuhan dan cost besar. Seperti tenant kita PT Sesmo yang sedang mengembangkan PLTS 200 MWp itu memerlukan lahan sekitar 200 hektare. Tapi kami terus mendorong tenant-tenant menggunakan energi listrik tenaga surya ini,” tegasnya.

Ia mengakui, PLTS belum serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan energi fosil. Namun, langkah ini menjadi bagian dari proses menuju sistem energi yang lebih beragam dan efisien.

Sebagai kawasan industri terintegrasi, IMIP menegaskan diri sebagai mitra strategis dalam mendukung transisi energi global menuju masa depan yang lebih bersih. “Harapan kami dengan adanya PLTS ini, bisa menyatakan kepada dunia bahwa kita merupakan kawasan industri yang benar-benar serius dan berkomitmen tinggi menuju green industry dan bersinergi dengan pemerintah untuk emisi yang lebih baik,” tandas Yulius.  *WAN