Serantai cerita dengan Kesya, Fikriyanto Rauf (26) mengaku, bersepeda awalnya bukan pilihan utama untuk pergi bekerja. Karyawan PT Guangchingde Metal Rolling (GCDMR), Departemen Rolling Stainless Steel (RSS) bagian Control Room itu justru mulai mengayuh setelah sepeda motornya berkali-kali mengalami kerusakan. 

Motor yang telah diservis ternyata kembali bermasalah. Biaya perbaikan dan penggantian suku cadang bahkan mencapai lebih dari Rp3 juta. Fikri akhirnya memulangkan kendaraan tersebut ke kampung halamannya di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Dia lalu membeli sepeda seharga sekitar Rp2 juta. Sejak Maret 2026, sepeda kayuh menjadi bagian dari kebiasaan barunya berangkat kerja sambil berolahraga.

Pilihan tersebut semakin mantap ketika Fikri mempertimbangkan pengeluaran bahan bakar. Baginya, menggunakan sepeda berarti ada biaya perjalanan yang bisa ditekan dan dialihkan untuk kebutuhan lain atau ditabung. Perjalanan dengan sepeda juga membuatnya dapat menghindari kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan menuju lokasi kerjanya di kawasan industri terintegrasi berbasis mineral nikel tersebut.

“Kalau dipikir-pikir, karena harga premium naik, pakai motor mungkin akan lebih banyak pengeluaran. Maka saya coba mengirit-iritlah dengan naik sepeda,” katanya.

Kebiasaan bersepeda kemudian mempertemukannya dengan lingkungan sosial baru. Fikri bergabung dengan komunitas pesepeda di Bahodopi yang dinamai Dopi Bike. Komunitas ini menjadi ruang untuk berteman, bersepeda bersama, sekaligus saling membantu ketika sepeda mengalami masalah. Fikri sangat terbantu oleh solidaritas antaranggota yang kerap berkumpul untuk memperbaiki sepeda bersama-sama, seperti membetulkan rantai lepas dan mengganti ban.

Fikri dan Kesya merasakan menfaat bike to work untuk menjaga kebugaran dan produktivitas. Setelah lebih aktif bergerak, Kesya mengungkapkan berat badannya berangsur turun, lebih fit, dan tidak mudah mengantuk saat bekerja. Fikri juga lantas menjadikan bersepeda sebagai hobi lain di akhir pekan.

Menurut Kesya, bersepeda juga dapat mengurangi emisi kendaraan berbahan bakar fosil. Penggunaan sepeda pun berhasil mengurangi konsumsi bahan bakar untuk sepeda motornya. “Sekarang saya isi satu liter bensin untuk motor bisa dipakai sampai satu minggu, bahkan lebih. Jauh lebih hemat,” timpalnya.

Pada akhirnya, seperti perjalanan dengan sepeda, perubahan tak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Seperti ditunjukkan Kesya dan Fikri, konsistensi menjalani satu demi satu kayuhan berbuah manfaat dan kebiasaan baik.

“Bersepeda itu rasanya senang, coba saja. Dari situ kita bisa punya perubahan setiap hari. Minimal setiap tahun sebaiknya ada yang berubah lebih baik dari diri kita,” motivasi Kesya. WAN