Kegiatan yang diinisiasi masyarakat Desa Le-le sejak tahun 2025 ini sekaligus berpotensi memberikan kontribusi terhadap pengurangan timbulan sampah dari rumah tangga, UMKM makanan, maupun sisa sayuran dari pasar tradisional yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk kompos. Dalam proses pengambilan bahan baku, memberi nilai keuntungan tersendiri bagi pengelolaan sampah di TPS yang berada di Desa Le-le, karena sampah organik dan nonorganik telah dipilah lebih dulu. Potensi sumber bahan baku lain juga diperoleh dari limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Le-le.

Ke depannya, pemanfaatan sampah organik juga berpotensi diperluas ke desa-desa lain sekitar kawasan IMIP. Pengembangan PESONA TANI juga tidak berhenti pada produksi pupuk kompos. Kelompok Tani Alam Terpadu perlahan mulai merancang pemanfaatan pupuk untuk budi daya padi organik secara mandiri.

“Masyarakat juga sudah mengajukan kepada kami rencana pemanfaatan jerigen bekas minyak goreng berukuran besar dari aktivitas pengolahan makanan bagi karyawan yang bekerja di IMIP untuk dijadikan sebagai media tanam. Metode ini menjadi salah satu alternatif, karena budi daya padi tidak harus menggunakan lahan persawahan,” sambung Ferdi.

Melalui PESONA TANI, IMIP bersama masyarakat terus mendorong terbentuknya pengelolaan sampah organik yang terintegrasi, mulai dari pemilahan, pengolahan menjadi pupuk kompos, hingga pemanfaatannya kembali untuk kegiatan pertanian. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengurangan timbulan sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya untuk menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Pengembangan pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kestabilan ketersediaan bahan baku, kapasitas produksi, serta kesiapan sumber daya pendukung pengelolaan kompos,” tandas Ferdi. *WAN