SULTENG RAYA – Harga rumah subsidi yang relatif terjangkau membuat sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi masih menjadi pasar yang menarik bagi pengembang di Sulawesi Tengah.

‎Area Head BRI Palu, Asep Suhendra, mengatakan tingginya minat tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tiga juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

‎“BRI saat ini sudah sangat luar biasa untuk kredit konsumer, di dalamnya ada KPR subsidi atau FLPP. Ini memang sejalan dengan program pemerintah untuk pemenuhan tiga juta rumah bagi MBR,” kata Asep, kepada awak media, Rabu (26/8/2026).

‎Menurutnya, harga rumah subsidi untuk kluster Sulawesi yang berada di kisaran Rp173 juta menjadi salah satu daya tarik bagi pengembang. Selain harga, lokasi perumahan di Palu dan sekitarnya dinilai masih strategis karena relatif mudah menjangkau pusat perkantoran dan berbagai fasilitas kota.

‎BRI bahkan telah memperluas penyaluran KPR subsidi tidak hanya di Kota Palu dan Sigi, tetapi hingga Kabupaten Parigi Moutong dan Pasangkayu.

‎Saat ini, kata Asep, sebanyak 116 developer di Sulawesi Tengah telah menjalin kemitraan dengan BRI.

‎Namun, BRI tidak serta-merta menerima seluruh proyek perumahan untuk masuk dalam pembiayaan KPR subsidi. Asep menegaskan, pihaknya menetapkan standar tertentu untuk memastikan rumah yang dibiayai benar-benar layak ditempati.

‎“Rumah yang masuk kredit adalah rumah yang siap huni, fasilitas umum sudah jalan. Sertifikatnya juga sudah terpecah, tinggal balik nama ke debitur,” ujarnya.

‎Asep menyebut proses tersebut dapat dipantau melalui pelaporan trilogi yang melibatkan developer, bank, dan debitur.

‎Di tengah persaingan perbankan dalam penyaluran KPR subsidi, BRI Palu juga menunjukkan kinerja yang cukup kuat. Berdasarkan survei internal yang dilakukan beberapa waktu lalu, BRI Palu menempati urutan kedua dalam penyaluran KPR subsidi.

‎Kondisi itu menunjukkan kebutuhan rumah terjangkau di Sulteng masih menjadi peluang besar, sekaligus ruang bagi perbankan untuk mempercepat akses hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. RHT