Lebih jauh, program ini juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang mulai ditinggalkan. Praktik seperti sanitasi pematang dan gropyokan sesungguhnya telah lama dikenal masyarakat sebagai metode efektif untuk mengendalikan populasi tikus. Namun, seiring perubahan pola pertanian dan berkurangnya aktivitas kolektif di tingkat desa, praktik-praktik tersebut mulai jarang dilakukan secara konsisten.
Lalu juga mengatakan bahwa revitalisasi PHTT tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengendalian hama, tetapi juga pada penguatan modal sosial masyarakat.
“Pengendalian hama tidak bisa dilakukan secara individual. Tikus tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Karena itu, keberhasilannya sangat bergantung pada kerja bersama. Melalui program ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa, sekaligus memperkuatnya dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan terukur,” jelasnya.
Pendekatan tersebut memiliki makna penting karena persoalan hama tikus sejatinya bukan hanya isu pertanian, melainkan juga isu pembangunan masyarakat. Ketika hasil panen menurun, dampaknya dapat menjalar pada pendapatan keluarga, aktivitas ekonomi desa, hingga ketahanan pangan lokal.
Sebaliknya, ketika produktivitas pertanian terjaga, masyarakat memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat daya tahan ekonomi rumah tangga.
Sebagai tindak lanjut, rumah burung hantu yang telah dibuat telah dipasang di sejumlah titik lahan pertanian kelompok tani binaan. Akan dilakukan juga pemantauan berkala untuk menilai efektivitas metode yang diterapkan serta mengidentifikasi peluang pengembangan di wilayah pemberdayaan lainnya.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu lahir dari teknologi yang kompleks, tetapi sering kali berasal dari kemampuan menghubungkan kembali ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan keseimbangan alam dalam satu solusi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, perseroan tidak hanya membantu petani mengendalikan hama, tetapi juga turut membangun fondasi pertanian yang lebih resilien, produktif, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. RHT