Ia menilai dosen dan dosen wali memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak pelayanan akademik di lingkungan perguruan tinggi. Karena itu, kedisiplinan, ketepatan waktu, serta kemampuan beradaptasi dengan sistem pelayanan berbasis teknologi harus terus diperkuat.
“Ujung tombak pelayanan itu ada di dosen dan dosen wali. Masalah kedisiplinan dalam melaksanakan tugas, seperti ketepatan waktu penginputan nilai melalui aplikasi layanan kita. Bangun budaya untuk melayani secara cepat, tepat, ramah, transparan, dan solutif,” katanya.
Prof. Amar juga mendorong para PNS baru untuk terus meningkatkan kompetensi dan kapasitas diri. Ia meminta pegawai tidak cepat berpuas diri setelah memperoleh status sebagai PNS, tetapi menjadikannya sebagai momentum untuk terus berkembang.
Peningkatan kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi salah satu perhatian yang didorong Untad. Bagi PNS yang belum menempuh pendidikan doktoral, universitas juga mendorong agar melanjutkan studi hingga jenjang S3, termasuk melalui kesempatan pendidikan di luar negeri.
“PNS harus terus meningkatkan kompetensi, kapasitas, dan kualitas diri. Bagi PNS baru yang belum S3, kita dorong dan haruskan mengambil pendidikan lanjutan di luar negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan, Untad telah menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung untuk membantu peningkatan kemampuan bahasa asing bagi para pegawainya. “Harapannya jadilah agent of change dan agent of innovation agar masa depan lembaga ini semakin baik,” pungkas Prof. Amar.
Pelantikan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi 53 PNS baru untuk memperkuat profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Universitas Tadulako. *ENG