Kegagalan pada Piala AFF kali ini terasa lebih pahit dan sulit dimaafkan dibanding edisi sebelumnya karena tidak lagi bisa bersembunyi pada alasan klasik. Stok pemain yang mungkin sering menjadi kambing hitam tidak dapat lagi menjadi alasan. Persiapan pun terhitung lebih matang disertai dukungan PSSI yang jauh lebih besar. Namun, hasil tetap sama, bahkan lebih menyakitkan karena datang dengan skuad “lengkap” yang pulang dengan kepala tertunduk.

Apakah mungkin ini juga ada korelasinya dengan karakter kita sebagai orang Indonesia yang gemar menempuh jalan pintas? Mungkin jawabannya dapat kita petik dari perjalanan Timnas Maroko. Kini, sepak bola mereka berada di level yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya.

Maroko bukan lagi sekadar kuda hitam dalam persaingan sepak bola dunia, tetapi turut diperhitungkan sebagai salah satu tim papan atas dunia. Dalam ranking Fifa terbaru, Maroko bahkan menempati posisi 6 dunia.

Keberhasilan Singa Atlas meraih prestasi dalam dunia sepak bola menunjukkan sebuah proses yang tidak instan. Kebangkitan sepak bola Maroko berawal dari proyek akbar yang diinisiasi oleh Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) Fouzi Lekjaa.

Pasalnya, semenjak tahun 2014, Presiden Maroko yang juga seorang teknokrat melakukan rekonstruksi sepakbola Maroko dengan memprogram kembali pembinaan usia dini di seluruh aspek hingga menyentuh klub-klub di seluruh Maroko.

Lekjaa menyusun kembali bangunan timnas dan klub-klub dengan mulai memperbaiki infrastruktur olahraga demi menunjang program pembinaan dan latihan untuk para pemain. Hal tersebut sebenarnya sejalan dengan visi besar yang pernah dilakukan oleh Raja Mohammed VI yang membangun akademi sepak bola pada 2009.

Langkah tersebut tak lupa dibarengi dengan menyempurnakan stadion menjadi lebih megah agar memenuhi standar FIFA. Tak heran, hal tersebut berdampak dengan terpilihnya Maroko menjadi salah satu tuan rumah yang akan menggelar Piala Dunia 2030 mendatang.

Barulah setelah bangunan pondasinya tersusun kokoh dan rapi, federasi Maroko mulai memburu diaspora seperti mencari pemain keturunan Maroko dari empat negara Eropa seperti Spanyol, Belanda, Perancis, dan Belgia.

Sebaliknya, Indonesia seakan menempuh jalan terbalik. Naturalisasi dulu, pembinaan kemudian. Atau mungkin jalan di tempat. Padahal dengan ratusan juta pemuda yang tersebar dari seluruh penjuru Indonesia dan tersebar di ribuan pulau, rasa-rasanya mustahil apabila bangsa ini benar-benar kekurangan bakat.

Yang mungkin lebih tepat dipertanyakan adalah kemauan dan keberanian untuk melangkah dan menyusuri jalan yang lebih panjang dan sunyi dari sorotan. Bukan melulu memilih jalan instan yang selalui dipenuhi gemerlap perhatian.

Padahal jika skenarionya berjalan mulus, gelar juara AFF dapat menjadi kado terindah untuk kemerdekaan Indonesia ke-81. Nyatanya tidak semua skenario selalu berjalan mulus. Barangkali kado tahun ini berupa refleksi bahwa kado sesungguhnya bukan trofi yang berkilau, melainkan keberanian untuk membangun timnas dari akar, bukan sekadar mempercantik pucuknya dengan naturalisasi, tetapi turut memajukan ekosistem mulai dari pembinaan hingga liga yang kompetitif.**