Karenanya, kedua belah pihak mendiskusikan berbagai aspek teknis dan komersial yang menjadi syarat utama memasuki pasar, mulai dari sistem distribusi yang efisien, jalur logistik yang kompetitif, standar operasional (SOP), persyaratan mutu, hingga pengemasan yang sesuai dengan kebutuhan pasar Tiongkok.
Bagi Faradiba, pertemuan tersebut bukan sekadar membangun relasi dagang, tetapi menjadi kesempatan memahami secara langsung karakter pasar Fuzhou agar para petani dan pelaku usaha di Sulawesi Tengah dapat mempersiapkan diri sejak dini.
“Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi kami untuk memahami secara langsung kebutuhan pasar Fuzhou. Dengan demikian, seluruh persyaratan teknis, standar kualitas, dan mekanisme distribusi dapat dipersiapkan sejak dini sehingga ketika peluang itu terbuka, Sulawesi Tengah telah siap menjadi salah satu daerah pemasok buah berkualitas ke pasar Tiongkok,” katanya.
Ia menambahkan, hasil pertemuan tersebut akan menjadi pijakan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah dalam membangun ekosistem ekspor hortikultura yang semakin kompetitif dan berkelanjutan.
Melalui komunikasi yang terus dibangun dengan Fuzhou Fruit Industry Chamber of Commerce, Faradiba optimistis kerja sama ini akan memperkuat hubungan perdagangan Indonesia–Tiongkok sekaligus membuka jalan lebih lebar bagi durian dan manggis Sulawesi Tengah untuk tampil di pasar global.
Jika langkah ini berhasil, bukan hanya nilai ekspor yang meningkat, tetapi juga kesejahteraan petani dan pelaku usaha hortikultura di Sulawesi Tengah diharapkan ikut terdongkrak. AJI