Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan Untad, khususnya pimpinan FKIP, yang memfasilitasi keberangkatannya mengikuti kompetisi nasional tersebut, termasuk pembiayaan perjalanan. Prestasi ini juga menjadi lanjutan dari capaian Syafaat sebelumnya yang berhasil meraih Juara I pada kompetisi seni mahasiswa tingkat Untad tahun 2025 dengan membawakan naskah yang sama.
Meski demikian, Syafaat berharap minat mahasiswa terhadap seni monolog dapat terus meningkat. Menurutnya, monolog merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang memiliki tantangan tinggi karena seorang aktor dituntut memainkan berbagai karakter dan emosi seorang diri di atas panggung. “Monolog membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kemampuan interpretasi yang kuat. Saya berharap ke depan semakin banyak mahasiswa yang tertarik mendalami seni ini sehingga regenerasi pelaku teater di kampus dapat terus berjalan,” ungkapnya.
Usai meraih prestasi di tingkat nasional, Syafaat kini mempersiapkan diri menghadapi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) sebagai langkah untuk meraih kesempatan tampil pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) yang akan digelar di Jember. “Semoga saya bisa kembali memberikan hasil terbaik dan mendapat kesempatan mewakili Sulawesi Tengah serta Universitas Tadulako di Peksiminas nanti,” tutupnya.*ENG