“Ketika rakyat sedang menunggu solusi, siapa yang mengambil keputusan strategis di daerah? Ketika terjadi kondisi darurat baru di lapangan, siapa yang memegang kendali penuh? Pertanyaan-pertanyaan ini yang hari ini muncul di tengah masyarakat,” kata Sayutin.
Peristiwa ini kembali membuka diskusi lama tentang orientasi birokrasi yang sering kali terjebak pada aktivitas seremonial di tengah kebutuhan riil masyarakat. Lebih lanjut Sayutin mengatakan, Penas KTNA memang merupakan agenda nasional yang penting bagi sektor pertanian dan perikanan. Namun dalam logika manajemen krisis, agenda seperti itu sejatinya dapat diwakilkan oleh perangkat daerah teknis yang membidangi urusan pertanian dan perikanan.
Sebaliknya, kehadiran kepala daerah di tengah masyarakat terdampak bencana tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Kehadiran itu bukan hanya untuk melihat kerusakan, tetapi juga memastikan seluruh mesin pemerintahan bergerak cepat dan bekerja dalam satu komando.
Kritik yang berkembang pun bukan semata soal perjalanan ke Gorontalo, melainkan tentang pesan yang diterima masyarakat. Di saat warga masih membersihkan puing rumah, bertahan di pengungsian, dan hidup dalam ketidakpastian akibat gempa susulan, pemerintah justru terlihat lebih sibuk menghadiri agenda luar daerah.
Situasi tersebut berpotensi melahirkan kesan bahwa penderitaan rakyat tidak menjadi prioritas utama. “Jangan sampai masyarakat merasa ditinggalkan. Ketika rakyat sedang menghadapi bencana, pemimpin seharusnya menjadi orang terakhir yang meninggalkan daerah, bukan justru ikut meninggalkan daerah secara bersamaan,” tegas Sayutin.
Ia juga mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menempatkan kepala daerah sebagai penanggung jawab utama penanganan bencana di wilayahnya. Karena itu, menurutnya, kehadiran langsung pimpinan daerah bukan sekadar pilihan politik, melainkan bagian dari tanggung jawab konstitusional. “Dalam situasi seperti sekarang, yang dibutuhkan masyarakat bukan foto-foto kegiatan seremonial, melainkan pemimpin yang berdiri bersama mereka di lapangan,” tandasnya.
Sayutin berharap salah satu pimpinan daerah segera kembali ke Parigi Moutong untuk memimpin langsung penanganan pasca gempa dan banjir. AJI