Wakil Ketua APSMBI, Murdiyah Hayati, S.Kom., M.M., mengapresiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako sebagai penyelenggara kegiatan. Menurutnya, Pleno I menjadi forum strategis untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi antarperguruan tinggi di tengah dinamika pendidikan tinggi, sekaligus memperluas jejaring dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan berbagai keputusan strategis yang semakin memperkuat peran APSMBI dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi di masa mendatang. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako, Prof. Dr. Wahyuningsih, S.E., M.Sc., Ph.D., menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan kepada FEB Untad sebagai tuan rumah Pleno I APSMBI 2026.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menunjukkan kesiapan Untad, khususnya FEB, baik dari sisi fasilitas maupun kapasitas akademik dalam menyelenggarakan forum berskala nasional. Ia menegaskan Pleno I bukan sekadar agenda organisasi, melainkan juga amanah dari Kementerian untuk menghasilkan rekomendasi yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui implementasi program Kampus Berdampak.

Sementara itu, Ketua Panitia, Harnida Wahyuni Adda, S.E., M.A., Ph.D., mengatakan tema yang diangkat mencerminkan komitmen APSMBI dalam memperkuat sinergi pengembangan soft skills dengan implementasi Kampus Berdampak guna mencetak profesional manajemen dan wirausahawan pemula yang berdaya saing global.

Pleno I juga katanya diperkuat dengan pelaksanaan PKM Internasional bertajuk “Bridging the Gap: Rekonstruksi Model Pengabdian Masyarakat Berbasis Impact-Driven Management” bersama NGO internasional di Kota Palu. Melalui kegiatan tersebut, APSMBI berupaya membangun model pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga menghasilkan dampak yang terukur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Selain itu, penyelenggaraan Expo Kewirausahaan Mahasiswa dan Alumni serta Workshop Nasional Public Speaking menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi peserta. “Kita semua adalah akademisi yang terbiasa mengajar. Namun, ide yang baik belum tentu tersampaikan dengan baik jika kemampuan public speaking belum terus dikembangkan. Karena itu, keterampilan ini penting untuk terus diasah,” katanya. ENG