Sementara itu, Wabup Minahasa Tenggara, Fredy Tuda, mengaku telah lama ingin berkunjung ke Parigi Moutong setelah mendengar banyak informasi positif mengenai kemajuan sektor pertanian daerah tersebut, terutama pengembangan durian dan pusat pembibitan tanaman unggulan.

Menurutnya, di tengah tantangan efisiensi anggaran yang saat ini dihadapi seluruh pemerintah daerah, dibutuhkan langkah kreatif dan inovatif agar pembangunan tetap berjalan dan pendapatan daerah terus meningkat.

“Kami melihat Parigi Moutong memiliki banyak hal yang bisa dipelajari, khususnya dalam pengembangan bibit dan pengelolaan pertanian. Karena itu kami datang untuk melihat langsung dan belajar,” ungkap Fredy Tuda.

Kesan itu semakin kuat ketika rombongan meninjau sejumlah lokasi pembibitan dan lahan pertanian unggulan di Parigi Moutong. Dari hasil peninjauan tersebut, Minahasa Tenggara menilai pola pengelolaan pertanian di Parigi Moutong layak dijadikan referensi untuk dikembangkan di daerah mereka.

Fredy menyebut kondisi alam Minahasa Tenggara sebenarnya sangat mendukung pengembangan pertanian, dengan tanah yang subur dan iklim yang relatif ideal. Namun, ia mengakui masih banyak aspek yang perlu diperkuat, terutama dalam pengembangan komoditas dan pembinaan masyarakat tani. Karena itu, ia berharap hubungan kedua daerah tidak berhenti pada kunjungan kerja semata.

Ia meminta agar dinas pertanian di masing-masing wilayah segera membangun komunikasi dan menyusun langkah kerja sama yang nyata, sehingga ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.

Selama kunjungan berlangsung, kedua daerah juga melakukan diskusi mendalam mengenai teknik budidaya, pengelolaan bibit unggul, penguatan ketahanan pangan hingga strategi pemasaran hasil pertanian.

Pertemuan tersebut menjadi penanda lahirnya semangat baru membangun kolaborasi antardaerah demi mendorong pertanian yang lebih maju dan berdaya saing. AJI