Menurutnya, di tengah derasnya arus digitalisasi, pengenalan budaya lokal harus dilakukan dengan cara yang menarik dan interaktif agar tetap relevan bagi anak-anak. Mengusung tema “Melalui Bertutur Kita Lestarikan Budaya dan Tingkatkan Literasi Anak”, kegiatan ini menjadi bukti bahwa literasi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan.

Ketua TP-PKK Kabupaten Sigi yang juga Bunda Literasi, Siti Halwiah, menilai bertutur memiliki peran strategis dalam membangun karakter sekaligus memperkuat identitas anak. “Anak-anak yang mengenal budayanya akan tumbuh dengan jati diri yang kuat. Bertutur menjadi sarana untuk menanamkan itu sejak dini,” katanya.

Ia juga mendorong para peserta untuk terus percaya diri dalam mengekspresikan kemampuan mereka, serta menjadikan budaya lokal sebagai bagian dari kebanggaan. Selain kompetisi, kegiatan ini juga menjadi momentum mempertemukan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga pegiat literasi, dalam satu gerakan bersama menjaga warisan budaya.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Sigi berharap generasi muda tidak hanya cakap dalam literasi, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai budaya di tengah perubahan zaman yang kian cepat. FRY