SULTENG RAYA — Di tengah hiruk-pikuk pelayanan kesehatan yang kerap menuntut waktu dan biaya, sebuah gagasan sederhana namun menyentuh muncul dari Sangulara Sulawesi Tengah. Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Parigi Moutong yang selama ini lebih sering sunyi, diusulkan untuk diubah menjadi rumah singgah—tempat bernaung bagi pasien dan keluarga yang tengah berjuang melawan sakit.
Usulan itu bukan tanpa alasan. Bagi banyak warga, khususnya dari wilayah utara Parigi Moutong, perjalanan menuju pusat layanan kesehatan bukan sekadar soal jarak. Ada beban biaya yang ikut mengiringi, transportasi, konsumsi, hingga tempat tinggal sementara selama proses pengobatan berlangsung.
Sekretaris Sangulara Sulteng, Riswan B. Ismail, melihat kondisi ini sebagai celah yang bisa dijawab dengan pemanfaatan aset daerah yang selama ini belum optimal. “Kalau Rujab dimanfaatkan sebagai rumah singgah, ini bisa sangat membantu. Warga tidak perlu lagi memikirkan biaya tempat tinggal selama berobat,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
Menurutnya, bangunan Rujab selama ini lebih banyak digunakan pada momen-momen tertentu, seperti kunjungan resmi atau peringatan hari besar. Di luar itu, ruang-ruang di dalamnya kerap kosong, sementara kebutuhan masyarakat akan tempat singgah justru terus ada.
