Satu rekan korban berhasil selamat dari peristiwa itu dan kini menjadi saksi kunci untuk mengungkap kronologi lengkap kejadian. Sementara itu, polisi memastikan tidak ada penggunaan alat berat di lokasi—seluruh aktivitas dilakukan secara tradisional, mulai dari menggali hingga mendulang.

Kawasan Tagena sendiri bukan nama baru dalam aktivitas penambangan manual. Jalur menuju lokasi bahkan telah lama dikenal warga, melalui akses ke arah Mess KKN Tagena. Aktivitas ini, meski menjadi sumber penghidupan, juga menyimpan risiko yang tak kecil.

Peristiwa yang merenggut satu nyawa ini kembali mengingatkan bahwa di balik kilau emas, selalu ada ancaman yang mengintai. Tanah yang digali dengan harapan, bisa sewaktu-waktu berubah menjadi kubur yang tak terduga.

Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait insiden tersebut, sekaligus mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam melakukan aktivitas penambangan, terutama di lokasi yang rawan longsor.

Di Tagena, duka itu kini menyisakan sunyi—dan sebuah pengingat bahwa perjuangan mencari nafkah, kadang harus dibayar dengan harga yang terlalu mahal. AJI