SULTENG RAYA– Tantangan bonus demografi, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga keterbatasan lapangan kerja menjadi sorotan dalam Dialog Kepemudaan bertema “Bonus Demografi, Tantangan Pemuda Kini dan Akan Datang” di Cafe Aswaja, Simpang Lima Silae, Kota Palu, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.
Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni mantan Ketua KNPI Sulawesi Tengah (Sulteng), Yahdi Basma, SH; aktivis sekaligus tokoh muda NU Sulteng, Dr. Nasaruddin Abd Kadir, M.Si; serta akademisi dan tokoh muda Alkhairaat, Sadiq Alhabsy, M.A.Hum. Kegiatan ini turut dihadiri Anggota DPD RI asal Sulteng, Rafik Al-Amri.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perubahan zaman, terutama dalam memanfaatkan peluang bonus demografi di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi.
Yahdi Basma menyoroti ketimpangan antara jumlah lulusan pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja. Menurutnya, setiap tahun ribuan lulusan SMA/SMK dan perguruan tinggi memasuki dunia kerja, tetapi pertumbuhan lapangan kerja belum sebanding dengan jumlah pencari kerja.
“Masalah kita bukan kekurangan orang pintar, tapi lapangan kerja yang tidak tersedia. Negara harus hadir menciptakan ekosistem wirausaha, bukan hanya mencetak pencari kerja,” tegas Yahdi.
Sementara itu, Sadiq Alhabsy menilai persoalan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Kesenjangan keterampilan juga menjadi tantangan karena dunia industri membutuhkan kompetensi dan pengalaman yang belum sepenuhnya diperoleh melalui pendidikan formal.
Karena itu, pemuda dituntut terus meningkatkan keterampilan dan mempersiapkan diri agar mampu bersaing di dunia kerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Narasumber lainnya, Dr. Nasaruddin Abd Kadir, menyoroti perkembangan digitalisasi dan teknologi AI yang mulai mengubah pola kerja di berbagai sektor. Menurutnya, pemuda harus mampu beradaptasi agar tidak tertinggal oleh perubahan teknologi.
“AI bukan lagi masa depan, tapi sudah masa kini. Jika pemuda tidak adaptif, kita akan tergantikan,” ujarnya.