Selain tantangan teknologi, Nasaruddin mengingatkan pentingnya menjaga empati dan solidaritas sosial di tengah perkembangan zaman yang semakin materialistis. Ia menilai generasi muda perlu menghindari sikap individualistis dan tetap memiliki kepedulian terhadap persoalan di lingkungan sekitarnya.
Ia juga mengingatkan bahaya disrupsi informasi, ketika berita bohong atau hoaks dapat dianggap sebagai kebenaran karena terus disebarkan melalui berbagai saluran informasi. “Pemuda harus jadi filter, bukan jadi penyebar hoaks,” pesannya.
Dalam dialog tersebut, para narasumber juga sepakat bahwa pemuda tidak seharusnya bersikap antipati terhadap politik. Politik dipandang sebagai sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, sehingga generasi muda perlu mengambil peran dengan membawa gagasan, idealisme, dan komitmen terhadap kepentingan publik.
Selain itu, kesuksesan generasi muda dinilai tidak cukup hanya mengandalkan ijazah atau kemampuan akademik. Keterampilan nonteknis (soft skill), kemampuan membangun jaringan, kecakapan membaca peluang, serta kecerdasan emosional menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan.
“Jaringan dan relasi yang luas, kemampuan membaca dan menangkap peluang dengan cepat, serta kecerdasan emosional, itu yang lebih menentukan masa depan pemuda hari ini,” kata Nasaruddin.
Anggota DPD RI, Rafik Al-Amri, mengapresiasi pelaksanaan dialog tersebut. Ia berharap kegiatan serupa terus digalakkan sebagai ruang pertukaran gagasan sekaligus upaya memperkuat kapasitas dan peran pemuda Sulawesi Tengah dalam menghadapi tantangan masa depan.
Menurutnya, kesiapan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam memanfaatkan bonus demografi dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta dan narasumber, dilanjutkan dengan foto bersama. *ENG