SULTENG RAYA — Sebanyak 32 perguruan tinggi di Sulawesi Tengah mengikuti Sosialisasi Mahasiswa Berdampak melalui Program Aksi Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (Aksara Mahasiswa) Tahun 2026 di Gedung Banua Kaili (GBK) Rusdy Toana, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, Jumat (14/8/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat bekerja sama dengan Unismuh Palu tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung kebijakan Mahasiswa Berdampak sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dan mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat.

Peserta yang hadir merupakan pimpinan dan pengelola bidang kemahasiswaan serta perwakilan organisasi mahasiswa, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., dalam sambutannya secara daring mengatakan, seluruh sivitas akademika memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Ilmu pengetahuan, riset, teknologi, dan inovasi tidak boleh berhenti di ruang-ruang kelas maupun laboratorium, tetapi harus hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata I Ketut Adnyana.

Ia menjelaskan, semangat tersebut menjadi salah satu landasan lahirnya program Mahasiswa Berdampak atau Aksara Mahasiswa. Namun, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana manfaat program dapat dirasakan dan dilanjutkan oleh masyarakat.

I Ketut Adnyana menilai mahasiswa dan dosen pendamping memiliki posisi strategis dalam mengidentifikasi berbagai persoalan di masyarakat sekaligus menghadirkan solusi berbasis sains, teknologi, inovasi, serta tetap memperhatikan nilai dan karakter budaya.

Karena itu, kata dia, Aksara Mahasiswa tidak seharusnya dipandang hanya sebagai program pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen pendamping. “Program Aksara Mahasiswa tidak boleh ditempatkan sekadar sebagai kegiatan pengabdian. Program ini menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa serta dosen-dosen pendamping,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pengabdian kepada Masyarakat, Lutfi Ilham Ramdhani, S.Sos., mengatakan, Kota Palu dipilih sebagai salah satu lokasi sosialisasi karena memiliki karakteristik wilayah yang sesuai dengan sasaran program.