SULTENG RAYA – Pagi yang panas di Lapangan Paqih Rasyid, Kota Palu, Jumat (17/4/2026), menjadi saksi bagaimana mental baja diuji dan dibuktikan. Berlian Tomoli tak sekadar menang—mereka bangkit, membalikkan keadaan, dan menulis cerita comeback layaknya drama klasik sepak bola.
Sejak peluit awal dibunyikan wasit Zulkifli Malonda, duel antara Berlian Tomoli dan Kaleke Putra langsung tersaji dalam tempo tinggi. Kedua tim bermain terbuka, jual beli serangan tak terhindarkan. Lini depan saling mengancam, namun rapatnya barisan pertahanan membuat peluang demi peluang hanya berakhir nyaris.
Kaleke Putra lebih dulu memecah kebuntuan. Menjelang turun minum, tepat di menit ke-41, sang kapten Moh. Fahmi muncul sebagai pembeda. Sepakan terukurnya tak mampu dibendung, membawa Kaleke Putra unggul 1-0 hingga jeda. Berlian Tomoli pun dipaksa masuk ruang ganti dengan tekanan.
Namun, babak kedua menghadirkan cerita berbeda. Pelatih Berlian, Kasmudin Mustapa, membaca permainan dengan jeli. Instruksi berubah—serangan dialihkan ke sektor sayap, memanfaatkan kecepatan dan ruang. Strategi itu jadi titik balik.
Menit ke-55, Abdi muncul sebagai pemantik harapan. Aksinya dari sisi lapangan berujung gol penyama kedudukan. Skor 1-1, dan momentum berbalik arah. Berlian Tomoli seperti menemukan napas baru—serangan demi serangan terus dilancarkan tanpa henti.
Puncaknya terjadi di menit ke-71. Lagi-lagi Abdi. Dengan ketenangan dan insting tajam, ia kembali menaklukkan penjaga gawang Kaleke Putra, Arul Evansyah. Gol kedua itu bukan sekadar angka, tapi simbol kebangkitan—Berlian berbalik unggul 2-1.
