Oleh: Prof. Wahyuningsih, SE, M.Sc., Ph.D*

(Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako)

Kata “Ramadhan” hanya disebut satu kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam QS Al-Baqarah ayat 185. Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu, serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Penegasan ini bukan tanpa makna, tetapi menjelaskan bahwa identitas utama Ramadhan bukan hanya bulan puasa, melainkan bulan Al-Qur’an. Maka siapa pun yang ingin merasakan hakikat Ramadhan, ia harus kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, sebagai sumber ketenangan, dan jalan penyembuhan jiwa.

Ramadhan selalu datang dengan cara yang berbeda dan menjadi sebuah momentum spiritual yang mengetuk pintu hati. Ada yang menyambutnya dengan suka cita, ada pula yang diam-diam berharap Ramadhan menjadi ruang untuk menyembuhkan luka batin yang tak pernah sempat diurai. Di tengah dunia yang bergerak cepat, manusia modern sering kali terlihat kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, relasi yang retak, kehilangan, hingga kegelisahan eksistensi membuat jiwa terasa sesak. Kita hidup di era di mana “healing” menjadi kata yang populer, tetapi sering kali hanya dimaknai sebatas liburan, hiburan, atau pelarian sesaat. Padahal, healing sejati bukanlah tentang melarikan diri dari masalah, melainkan menemukan ketenangan batin. Di sinilah Ramadhan hadir sebagai ruang penyembuhan yang paling otentik, dan Al-Qur’an menjadi pusat terapinya.

Al-Qur’an: Kitab yang Menyembuhkan

Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa Al-Qur’an adalah syifa’—penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada. Penyakit yang dimaksud bukan hanya penyakit fisik, tetapi juga penyakit hati seperti kecemasan (anxiety), iri, dengki, putus asa, kesombongan, hingga kehilangan arah hidup. Ketika manusia menjauh dari Al-Qur’an, sejatinya ia sedang menjauh dari sumber ketenangan itu sendiri. Tidak heran jika banyak orang mencari ketenangan ke berbagai tempat, namun justru semakin gelisah, karena metode “healing” yang ditempuh tidak selaras dengan kebutuhan jiwa. Hati yang gelisah tidak akan sembuh hanya dengan hiburan atau pelarian sesaat; membawa kegelisahan ke keramaian tanpa menyentuh akar masalah justru sering kali memperparah kekosongan yang dirasakan.

Ketenangan sejati telah Allah turunkan dalam bentuk wahyu, dan Ramadhan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Maka sangat tepat jika Ramadhan disebut sebagai bulan healing Qur’ani—bulan di mana jiwa-jiwa yang lelah diajak kembali kepada fitrahnya. Dalam suasana ini, mendekat kepada Al-Qur’an tidak hanya dilakukan secara pribadi, tetapi juga diperkuat dengan lingkungan yang baik: berkumpul bersama orang-orang shalih dan shalihah, menghadiri majelis ilmu, serta berada di tengah mereka yang akrab dengan Al-Qur’an. Lingkungan seperti inilah yang secara perlahan menenangkan hati, menguatkan iman, dan menjadi bagian penting dari proses penyembuhan jiwa yang hakiki.

Luka Batin Manusia Modern

Mari kita jujur pada diri sendiri, bahwa banyak dari kita sesungguhnya sedang menyimpan luka. Luka karena kegagalan yang berulang, harapan yang tak pernah sampai, pengkhianatan yang meninggalkan bekas, kehilangan orang-orang tercinta, hingga perasaan tidak cukup, tidak berarti, dan tidak dihargai; bahkan lebih dalam lagi, ada luka masa lalu dan trauma masa kecil yang diam-diam membentuk cara kita melihat diri sendiri dan dunia. Luka-luka itu jarang benar-benar kita sembuhkan, melainkan kita tutupi dengan kesibukan. Kita tenggelam dalam pekerjaan, larut dalam scrolling media sosial, dan terus berlari mengejar target hidup, seolah dengan itu semua kita bisa melupakan rasa perih di dalam dada. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kita menjadi lelah tanpa tahu sebabnya, merasa kosong di tengah hidup yang tampaknya baik-baik saja, bisa tersenyum di luar namun menyimpan tangis di dalam. Di titik inilah Ramadhan datang sebagai jeda ilahi, menghentikan ritme yang melelahkan itu, mengajak kita berhenti sejenak, menata ulang hati yang berserakan, dan perlahan kembali pulang kepada Al-Qur’an sebagai sumber ketenangan dan penyembuhan sejati.

Karena itu, proses penyembuhan tidak cukup dijalani sendirian; kita membutuhkan lingkungan yang menguatkan, sebuah circle yang menuntun kita semakin dekat dengan Al-Qur’an, bukan justru menjauh darinya. Bertemanlah dengan orang-orang yang lisannya basah oleh tilawah, yang obrolannya mengingatkan kepada Allah, dan yang kehadirannya menenangkan hati serta meneguhkan iman.

Jangan sampai kita kelak menyesal karena memilih pergaulan yang salah, teman yang mengajak “healing” tetapi justru membawa kita semakin jauh dari Al-Qur’an, larut dalam kelalaian, dan menjauh dari cahaya petunjuk. Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas dalam QS Al-Furqan ayat 28–29 tentang penyesalan seseorang yang berkata, “Wahai celaka aku, seandainya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku,” karena ia telah menyesatkannya dari peringatan Allah setelah kebenaran datang”. Maka memilih lingkungan menjadi sangat penting dan prioritas sebagai  ikhtiar menjaga hati, agar healing yang kita jalani benar-benar membawa kita mendekat kepada Allah, bukan semakin tersesat menjauh dari-Nya.

Puasa: Detoksifikasi Jiwa