Nilai ketiga adalah empati, terutama dalam menghadapi persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim dan kebakaran hutan serta lahan. Prof Amar mengajak seluruh sivitas akademika meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk menindaklanjuti masukan mahasiswa pecinta alam (Mapala).
Menurutnya, perguruan tinggi harus menjadi teladan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan membangun kepedulian sosial. “Universitas sebagai lembaga pendidikan harus mempunyai empati dan kepedulian bersama dalam menjaga lingkungan. Ini menjadi tanggung jawab kita agar Untad dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan pembangunan bangsa,” jelasnya.
Terkait toleransi, ia menyebut Untad menjadi tempat belajar bagi mahasiswa dari sekitar 27 provinsi dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang beragam.
Upaya memperkuat toleransi dilakukan melalui Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), kegiatan kemahasiswaan, pendidikan keagamaan, serta partisipasi bersama dalam peringatan hari besar keagamaan. “Keragaman kita merupakan kekuatan, tetapi juga bisa menjadi bom waktu apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, kita harus terus memupuk toleransi, saling menghargai, dan menjaga kebersamaan,” tegasnya.
Ia berharap momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi mahasiswa untuk berkontribusi bagi bangsa melalui prestasi, inovasi, dan kepedulian sosial, sekaligus menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kampus dan masyarakat. ENG