Perluas Pembiayaan bagi Pelaku Usaha Perumahan
BTN juga memperkuat penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) melalui pembiayaan dari sisi pasokan (supply) dan permintaan (demand). Skema ini menyasar pelaku usaha yang mendukung pembangunan rumah hingga calon debitur potensial.
Dari sisi pasokan, BTN bekerja sama dengan lebih dari 8.000 mitra pengembang. Pembiayaan juga dibuka bagi kontraktor, pemasok, distributor, dan toko bahan bangunan. Langkah ini memberi akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam rantai pasok perumahan.
Sementara itu, dari sisi permintaan, BTN menyasar calon debitur potensial. Kelompok tersebut meliputi wiraswasta, merchant BTN, serta nasabah dengan riwayat kredit yang baik.
Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, realisasi plafon KPP BTN mencapai Rp6,16 triliun dengan total penyaluran kepada 9.236 debitur. Angka tersebut terdiri atas Rp4,02 triliun untuk sisi pasokan dan Rp2,14 triliun untuk sisi permintaan.
Melalui skema ini, pembiayaan perumahan tidak hanya menyasar calon pemilik rumah. Pelaku usaha yang terlibat dalam pembangunan dan penyediaan material juga memperoleh akses pembiayaan.
Kualitas Kredit Terjaga
Dalam satu dekade terakhir, BTN menjalankan transformasi secara bertahap. Fokusnya meliputi perbaikan tata kelola, peningkatan kualitas kredit, pengembangan bisnis, serta digitalisasi operasional.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) konsolidasian berada di level 3,0 persen pada Juni 2026. BTN menjaga kualitas kredit melalui penerapan prinsip kehati-hatian dan penguatan proses perkreditan.
Ke depan, perseroan akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan risiko kredit.